Kamis, 03 Juli 2014

KHUTBAH

TOLERANSI DAN KERUKUNAN

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّأَتِ اَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهِ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَدِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْ مُحَمَّدً وَعَلَيْ آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ، اَمَّا بَعْدُ، فَيَا عَبَدَ اللَّهِ أُوْصِيْنِي وَاُصيْكُمْ بِتَقْوَي اللَّهِ فَقَدْ فَازالْمُتَّقُوْنَ

Kaum muslimin Jama’ah Jum’at yang dirahmati Allah.
Marilah kita tingkatkan ibadah kita, iman kita dan taqwa kita kepada Allah
SWT. taqwa dalam arti melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, juga taqwa yang dapat menjadikan diri kita mempunyai kepribadian muslim sejati.


Mengawali tahun 1433 H, perlu kiranya kita menyegarkan kembali ingatan kita, bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, bangsa yang memiliki berbagai keragaman sosial, budaya dan agama, tentunya semua itu sudah menjadi sunatullah, sudah menjadi kehendak Allah.


Dalam kontek ini, pertama-tama kita percaya dan yakin, bahwa keragaman sosial, budaya dan agama dalam bangsa Indonesia adalah kehendak Allah. Kedua kita yakin bahwa kehendak Allah tersebut bukan tidak mempunyai makna, tujuan dan hikmah. Kehendak Allah itu bertujuan untuk kebaikan umat manusia. Ketiga kita bersyukur bahwasannya agama Islam sebagai agama terakhir telah memberikan petunjuk dan pedoman bagaimana umat Islam harus bersikap dan bertindak menghadapi keragaman tersebut.


Di dalam menyikapi keragaman, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara tidak dibenarkan merasa superior, apalagi inferior, dan tidak mengunggulkan golongan/kelompoknya dengan menonjolkan keberhasilan dan kelebihannya. Sebab dengan beragamnya kelompok memungkinkan untuk saling melengkapi kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam kontek Indonesia, konsep bhineka tunggal ika merupakan konsep kebangsaan yang tepat. Konsep ini mengharuskan kita untuk menghargai perbedaan, menghormati identitas agama, budaya masing-masing dalam kerangka hidup bersama.


Sebetulnya Allah Maha Kuasa untuk membuat bangsa di dunia ini bangsa yang seragam, bangsa dengan satu pandangan hidup. Namun seperti yang kita alami dan saksikan, Allah telah menciptakan dunia dengan penghuni manusia yang sangat beragam, sebagaimana Allah telah berfirman :


لكل جعلنا منكم شرعة ومنها جا- ولوشاء الله لجعلكم امة واحدة ولكن ليبلؤكم في ماءتاكم فستبقوا الخيرات


Untuk tiap-tiap umat manusia diantara kamu telah Allah berikan aturan dan jalan hidup yang terang. Jika Allah menghendaki, Allah berkuasa untuk menjadikan umat manusia dalam satu syari’at dan minhaj. Tetapi Allah berkehendak menguji kamu sekalian terhadap apa-apa yang telah Allah berikan kepada kamu, dengan maksud agar kamu sekalian saling berlomba-lomba berbuat baik (Q.S. Al Maidah : 48)

Jamaah Jum’ah Rahimakumullah.
Tentang tujuan umat manusia berlomba-lomba berbuat baik, dalam ayat yang lain dijelaskan lebih lanjut :


يايهاالناس انا خلقنكم من ذكر وانثى وجعلناكم شعوبا وقباءل لتعارفوا-ان اكرمكم عندالله اتقاكم-ان الله عليم خبير


Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa diantara kamu sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. Al Hujurot : 13)


Dalam mengarungi kehidupan dunia, orang-orang Islam tidak dilarang bergaul dengan orang lain, tidak dilarang berbuat baik dengan orang lain, dan diperintahkan berbuat adil dengan semua orang tanpa membedakan sosial, budaya dan agama, sebagaimana firman Allah :


لاينهكم الله عن الذين لم يقاتلكم فىالدين ولم يخرجوكم من دياركم ان تبروهم وتقسطوا اليهم-ان الله يحب القسطين


Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil Q.S. Mumtahanah : 8)


Namun demi kemaslahatan hidup di dunia dan di akhirat, kaum muslimin tidak boleh berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang memaksamu, merayu atau membujukmu untuk keluar dari agama Islam, memerangi dan memusuhi kamu karena agama serta mengusir kamu dari negerimu. Menghadapi orang-orang yang demikian umat Islam diperintahkan oleh Allah untuk menghilangkan fitah dari muka bumi seperti firmnan Allah :


انما ينهاكم الله عن الذين قا تلوكم فى الدين واخرجوكم من ذياركم وظاهروا على اخراجكم ان تولوهم-ومن يتولهم فاولئك هم الظلمون


Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu, orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim (Q.S. Mumtahanah : 9)


Kaum Muslimin Rakhimakumullah
Ada tiga kata kunci dari dua ayat tersebut di atas, yang perlu kita perhatikan :


1. Ta’arafuu : saling mengenal, saling mengerti saling bersikap bijaksana, saling tegang rasa dan saling berbuat baik.
2. Tabarru : berbuat baik dan berbuat kebajikan
3. Thuqsithuu : bersikap dan berbuat adil


Di sisi lain Allah memberikan perintah kepada kaum muslimin bahwa permusuhan harus dihentikan seperti firman-Nya :


وقا تلوهم حتى لاتكون فتنة ويكون الدين لله-فانتهوا نتهوا فلاعدوان الاعلى الظالمين


Perangilah mereka sehingga tidak ada fitnah atau penindasan atau pengejaran dan agama hanya untuk Allah. Akan tetapi jika mereka berhenti memerangi kamu) tidak boleh ada permusuhan lagi kecuali kepada mereka yang aniaya (Q.S. Al Baqoroh : 193)


Dalam menghadapi dan bergaul dengan orang yang tidak memeusuhi umat islam, tidak melakukan pengusiran dan tidak memaksa dan membujuk untuk masuk agama mereka, Allah memebrikan petunjuk :


فلذالك فادع -واستقم كماامرت-ولاتتبع اهواءهم-الله ربنا وربكم-لنا اعمالنا ولكم اعمالكم-لاحجةبينناوبينكم- الله يجمع بيننا-واليه المصير


Maka serulah (mereka kepada agama itu) dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan jangan mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan Aku diperinthakan supaya berlaku adil di antara kamu. Allahlah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kai dan kamu Allahlah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nya lah kembali (Q.S. Asy Syuura : 15)


Dalam bidang aqidah dan agama, Allah memberikan garis yang tegas dan jelas yang harus dipedomani kaum muslimin dalam bergaul sebagaimana tertera dengan jelas dalam firman Allah sebagai berikut :
قل يايها الكفرون – لااعبد ماتعبدون-ولاانتم عابدون مااعبد-ولااناعابدماعبدتم-ولاانتم عابدون مااعبد-لكمدينكموليدين

Katakanlah hai orang kafir.
Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah.
Kamu juga tidak menyembah apa yang akau sembah.
Saya tidak menyembah apa yang kamu sembah.
Kamu tidak menyembah apa yang aku sembah.
Untukmu agamamu dan untukku agamaku. (Q.S. Al Kafiruun : 1-6)


Kaum muslin yang dimuliakan Allah
Demikian uraian yang sederhana ini kiranya adapat kita jadikan bahan renungan kita dalam rangka mengawali tahun baru 1433 H, dengan harapan kedepan dalam pergaulan hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara akan lebih cerah dalam kondisi dan situasi yang lebih kondusif.


KHUTBAH

الخطبة الأولى
الحمد لله , الحمد لله الذى خلق الإنسان فى أحسن تقويم  و جعل رسوله محمداً  أشرف المخلوقين. أشهد ألاّ إله إلا الله وحده لا شريك له  و أشهد أن محمداً عبده و رسوله   لا  نبي بعده. اللهم صلّ  وسلّم على حبيبنا و شفيعنا محمداً  و على آله و أصحابه و من تبعه إلى يوم القيامة ،
فيَا عِبادَ الله  أوصينى نفسى و إياكم بتقوى الله  فقد فاز المتقون  و   قال تعالى فى كتابه الكريم و هو أصدق القائلين : أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
و قال تعالى فى آية أخرى : " يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين آتوا العلم درجات ،،  أما بعد.

Hadirin siding jum’at ,
Mari kita bersyukur kepada Allah
Shalawat dan salam kita limpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW.
Selanjutnya , Khatib Berwasiat taqwa kepada diri khatib dan kepada Hadirin sekalian , karena ketaqwaan adalah jalan menuju kemenangan

Beberapa hari kedepan , bangsa Indonesia akan memperingati hari Pendidikan Nasional HARDIKNAS . Hari untuk memeringati awal perhatian bangsa Indoensia terhadap pentingnya pendidikan di Indoensia bahkan di dunia ini.

Seseorang yang mengirim putranya ke lembaga pendidikan maka tujuannya adalah untuk dididik dengan berbagai macam ragam kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan, disamping untuk mencari Ilmu.

Ketika berbicara tentang ilmu , maka banyak sekali ayat – ayat al-Qur’an maupun hadits nabi yang memberitahukan tentang pentingnya ilmu dan perintah untuk mecari ilmu sampai ke tempat yang jauh.
قال تعالى فى كتابه الكريم : يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أوتوال العلم درحات .
Dan karena pentingnya , kita di suruh menuntut ilmu dari bayi samapi meninggal dunia
أطلب العلم من المهد إلى اللحد
Bahkan Rasulullah memerintahkan untuk menuntut ilmu walau tempat itu jauh
أطلب العلم و لو بالصين .
Dan masih banyak lagi yang membicarakan tentang ilmu.
Dan kita tahu bahwa neheri Cina saat itu adalah bukanlah negeri orang – orang muslim , tapi kebanyakan adalah pemeluk Buda ada Kon hucu , tapi Rasulullah tetap bersabda untuk menuntut ulmu samapi sejauh itu ,
Hal itu tidak lain karena ilmu

Bahkan karena pentingnya ilmu , Allah mengancam bagi siapa saja yang menyembunyikan ilmu , melalui rasulnya
من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجامٍ من نارٍ
Barang siapa yang ditanya suatu ilmu kemudian menyembunyikan , maka pasti akan di cambuk dengan cambukan dari api neraka.
Naudzubillah
Hadirin siding jum’at yang dirahmati Allah

Zaman sekarang , banyak sekali orang yang pandai , orang yang berilmu , mereka pandai menerangkan tentang suatu ilmu , meraka pandai berdebat tentang suatu ilmu , tapi kenapa sekarang banyak juga orang – orang yang berilmu terjerumus kedalam tindakan – tindakan yang tidak terpuji yang tidak sesuai dengan ilmu yang melekat pada mereka. ?

Ini adalah suatu tanda tanya besar ? ada apa dengan mereka yang sudah bersusah payah untuk mecari ilmu tapi malah berbuat menyalahi ilmu yang di miliki ? ada yang jadi koruptor , tukang judi , tukang tipu , tukang ngibul dan sebagainya.....

Hal ini bisa jadi karena niat mereka ketika menuntut ilmu,
Mnuntut ilmu untuk berdebat , untuk hanya untuk kesombongan , gagah gagahan , untuk riya, . atau menuntut ilmu untuk di amalkan , karena kita tahu bahwa segala sesuatu itu tergantung dari niatnya
إنما الأعمال بالنيات

Hadirin siding jum’at yang di rahmati Allah ,
Mungkin kita perlu mencermati  ungkapan  orang – orang bijak dahulu ,yaitu “ menuntut ilmu itu sulit , tapi lebih sulit mengamalkan ilmu”

Maka kita perlu menekankan disini bahwa :
Mempunyai ilmu sedikit , tapi dengan rajin diamalkan , itu jauh lebih baik , dari pada mempunyai ilmu banyak , tidak di amalkan , atau bahkan menyampaikan ilmu untuk menyesatkan , naudzubillah.

أعوذ بالله من الشيطان الرجيم : إقرأ باسم ربك الذي خلق ،  خلق الإنسان من علق ، إقرأ و ربك الأكرم ، الذي علم بالقلم ، علم الإنسان ما لم يعلم
Hadirin siding jum’at yang dirahmati Allah ,
Marilah kita hendaknya menuntut ilmu dengan niat ibadah , lillahi ta’ala, semoga kita menjadi orang yang berilmu dan ber amal

بارك الله لكم فى القرآن العظيم و نفعنى و إياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم و تقبل منى و منكم تلاوته  إنه هو السميع العليم.




الخطبة الثانية
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده.
 قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا}
اإعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ،. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. اللهم سلمنا من آفات الدنيا و عذاب الآخرة و من فتنتهما و بليتهما و فضيحتهما
اللهم أكرمنا بنور الفهم و افتح لنا أبواب رحمتك و انصر علينا حكمتك يا أرحم الراحمين
. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عباد الله , إن الله يأمر بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربي و ينهي عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون , فاذكروا الله العظيم يذكركم و اسألوا من فضله يعطكم و لذكر الله الأكبر , اقم الصلاة !



KHUTBAH. HARI PENDIDIKAN NASIONAL

الخطبة الأولى
الحمد لله , الحمد لله الذى خلق الإنسان فى أحسن تقويم  و جعل رسوله محمداً  أشرف المخلوقين. أشهد ألاّ إله إلا الله وحده لا شريك له  و أشهد أن محمداً عبده و رسوله   لا  نبي بعده. اللهم صلّ  وسلّم على حبيبنا و شفيعنا محمداً  و على آله و أصحابه و من تبعه إلى يوم القيامة ،
فيَا عِبادَ الله  أوصينى نفسى و إياكم بتقوى الله  فقد فاز المتقون  و   قال تعالى فى كتابه الكريم و هو أصدق القائلين : أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
و قال تعالى فى آية أخرى : "  و قال لهُمْ نَبِيُّهُم إن الله قَدْ بَعَثَ لكُمْ  طالوتَ  ملكاً ، قالوا أنَّي يَكُوْنُ لهُ المكُ عليناَ و نحنُ أحقُّ بالملكِ منهُ و لم يُؤْتَ سعةً  من المالِ   ، قال إنَّ اللهََ  اصْطَفَاهُ  عليكُمْ  و زاده بَسْطَةً  فى العلمِ  والجسْمِ   ، و الله تُؤْتىِ مُلْكَهُ  من  يشاءُ ،  و اللهُ  واسعٌ عليمٌ ( البقرة : 247 ) ،،  أما بعد.

Sidang jum'at yang dirahmati Allah,
Pada kesempatan yang baik ini , khotib berwasiat untuk diri khotib sendiri dan juga kepada kaum muslimin semua untuk senantiasa meningkatkan kualitas taqwanya kepada Allah, karena hanya kualitas ketaqwaan kitalah yang bisa menyelamatkan kita dari sengatan api neraka di hari kiamat kelak.
Sholawat dan salam kita limpahkan kepada junjungan nabi besar Muhammad S.A.W , semoga kita termasuk kedalam orang – orang yang mendapat syafaatnya kelak di hari kemudian.

Sidang jum'at yang di rahmati Allah
120 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran tokoh Pendidikan nasional  kita yaitu Ki Hajar Dewantara yang bernama asli " Raden Mas Soewardi Soerjoningrat ". Beliau dilahirkan di kota Yogjarkata pada tahu 1889. Hari kelahiran beliau di tetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai hari pendidikan Nasional
Jika kita bicara tentang hari Pendidikan Nasional di Indonesia , maka pembicaraan kita tidak akan lepas dari  Ajaran beliau yaitu " ING NGARSO SUNG TULODO , ING MADYO MANGUN KARSO , TUT WURI HANDAYANI "
Menurut Ki Hajar Dewantara , maka  seorang pendidik harus mampu menjadi teladan , di tengah – tengah anak didiknya , harus mampu membangun semangat jika berada ditengah tengah anak didik , serta mampu memberi dorongan ketika berada di balik layer atau  di belakang
Jadi secara tersirat seorang pendidik yang baik adalah disamping menjadi suri tauladan atau panutan bagi peserta didik, juga harus mampu menggugah semangat dan memberikan dorongan moral dari belakang agar peserta didik  dalam melaksanakan tugasnya dalam belajar penuh dengan ketulusan dan bukan paksaan

Sidang jum'at yang di rahmati Allah
Mendidik bukanlah hanya sekedar menyampaikan ilmu atau yang sering di sebut transfer of knowledge saja , tapi mendidik adalah sebuah proses menggali potensi yang ada pada anak didik dengan menerapkan cara yang tepat untuk mengenalkan sifat – sifat terbaiknya kepada dunia , serta mengajari mereka keberanian untuk menghadapi kesulitan, inilah inti gagasan pendidikan yang mencerdaskan anak. Berarti mendidik bukanlah dengan cara mengabulkan semua keinginan anak.

Jika ada sebagian orang tua anak didik yang hanya mementingkan kemampuan kognitif semata, dan akan menghakimi anak yang secara kognitif kurang beruntung , dengan kata – kata yang kurang pantas, seperti bodoh , dungu dan sebagainya, maka orang tua tersebut haruslah perlu diingatkan , bahwa kecerdasan anak dan potensi anak itu bukan hanya terletak pada kemampuan kognitif semata. Jika ukurannya hanya kognitif semata , maka itu hanyalah bentuk pengajaran semata.

Ki Hadjar Dewantara membedakan antara  sistem “Pengajaran” dan “Pendidikan”.  Menurutnya pengajaran bersifat memerdekakan manusia dari aspek hidup lahiriah (seperti kemiskinan dan kebodohan). Sedangkan pendidikan lebih memerdekakan manusia dari aspek hidup batin (otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik). Artinya  sistem pendidikan itu harus mampu menjadikan setiap individu hidup mandiri dan berani berpikir sendiri. Untuk menjadikan manusia yang mampu meng aktualisasikan dirinya ,

maka pendidikan tidak boleh terpisah – pisah antara pendidikan jasmani , rohani , pendidikan intelektual dan lain sebagainya. Sifat umum pendidikan yang  beliau canangkan adalah segala daya-upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti (kekuatan batin, karakter), pikiran, (intelect), dan tubuh anak. Sehingga kehidupan dan penghidupan anak-anak didik selaras dengan dunia-nya

Kalau selama ini pendidikan  hanya dimengerti sebatas pembentukan intektual, sementara pembentukan budi pekerti hanya sebatas kata-kata belaka. Maka perlulah kita kembali melihat tujuan pendidikan yang sebenarnya. Menurut Ki Hajar Dewantara ;  tujuan pendidikan adalah “penguasaan diri” sebab di sinilah pendidikan memanusiawikan manusia atau menjadikan manusia/peserta didik kian beradab dan memiliki keadaban (humanisasi) Penguasaan diri merupakan langkah yang harus dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika setiap peserta didik mampu menguasai dirinya, mereka akan mampu juga menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa.

Hadirin sedang jum'at yang di rahmati Alah
Tadi di bahas bahwa ada perbedaan antara pendidikan dan pengajaran, seperti apa yang telah dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara, tapi bukan berarti menomor duakan pengajaran  dari pendidikan. Sama sekali tidak.
Pengajaran dan pendidikan adalah dua hal yang saling melengkapi. Pengajaran membentuk peserta didik berpikir secara intelektual dan empiris. Sementara pendidikan adalah mendidik peserta didik untuk menjadi manusia yang mampu mandiri baik itu secara intelektual maupun secara moral. Kedua hal ini tidak dapat diabaikan salah satunya. Tetapi pendidikan yang berkualitas adalah pendidikan yang membentuk manusia

Sidang jum'at yang dirahmati oleh Allah .
Pada minggu ini , Negara kita disibukkan oleh hajat Negara , hajat nasional , yaitu pemilihan legislative atau pemilihan anggota Dewan , dan sebebntar lagi juga akan ada pemilihan presiden. Disamping itu , ada hajat lain lagi , yaitu Ujian Nasional untuk tingkat Sekolah Menengah pertama dan Menengah atas , serta sebentar lagi untuk tingkat Dasar.
Para peserta didik sangat tertekan dengan Ujian tersebut , karena ini adalah merupakan terminal bagi mereka untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, dan jika tidak lulus , maka mereka pasti akan mengulang lagi.
Pada ujian ini , seperti yang sudah kita ketahui , lulus dan tidak nya peserta didik hanya di tentukan oleh mampu atau tidak nya anak tersebut mengerjakan soal soal pada materi BAHASA INDONESIA , BAHASA INGGRIS ,MATEMATIKA , FISIKA , KIMIA BIOLOGI , EKONOMI , SOSIOLOGI , GEOGRAFI . JIKA SALAH SATU DARI MATERI TERSEBUT TIDAK LULUS , MAKA PRAKTIS DIA JUGA TIDAK LULUS , WALALUPUN PELAJARAN YANG LAINNYA LULUS.  Maka pada sisi ini , pemerintah seolah olah tidak memperhatikan aspek lain , seperti ktrampilan dan moral anak.

Sidang jum'at yang dirahmati Allah,
Jika kita simak , pada pemilu legislative kemarin , maka kita sangat prihatin dengan kasus – kasus yang terjadi , seperti setress karena kalah pemilu , gila , meniggal dunia dan ada yang tidak siap kalah dalam pertarungan , sehingga mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri..
INIKAH CERMIN DARI HASIL PENDIDIKAN DI INDONESIA SELAMA INI, WAALLAHU A'LAM BISHOWAAB.


أعوذ بالله من الشيطان الرجيم :
و قال لهُمْ نَبِيُّهُم إن الله قَدْ بَعَثَ لكُمْ  طالوتَ  ملكاً ، قالوا أنَّي يَكُوْنُ لهُ المكُ عليناَ و نحنُ أحقُّ بالملكِ منهُ و لم يُؤْتَ سعةً  من المالِ   ، قال إنَّ اللهََ  اصْطَفَاهُ  عليكُمْ  و زاده بَسْطَةً  فى العلمِ  والجسْمِ   ، و الله تُؤْتىِ مُلْكَهُ  من  يشاءُ ،  و اللهُ  واسعٌ عليمٌ ( البقرة : 247 )

بارك الله لكم فى القرآن العظيم و نفعنى و إياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم و تقبل منى و منكم تلاوته  إنه هو السميع العليم.









الخطبة الثانية
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: {وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا}
اإعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عباد الله , إن الله يأمر بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربي و ينهي عن الفحشاء و المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون , فاذكروا الله العظيم يذكركم و اسألوا من فضله يعطكم و لذكر الله الأكبر , اقم الصلاة !




KHUTBAH. DUA DASAR KEMAKSIATAN

DUA DASAR KEMAKSIATAN
الحمد لله الذي خلق الإنسان فى أحسن التكويم ، و خلق كل شيء تقديرا ،
أشهد ألاّ إله إلا الله وحده لا شريك له  و أشهد أن محمداً عبده و رسوله   لا  نبي بعده.
اللهم صلّ  وسلّم على حبيبنا و شفيعنا محمد صلى الله عليه و سلم  و على آله و أصحابه و من تبعه إلى يوم القيامة
فيَا عِبادَ الله  أوصينى نفسى و إياكم بتقوى الله  فقد فاز المتقون  و   قال تعالى فى كتابه الكريم و هو أصدق القائلين : يا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
و قال تعالى فى آية أخرى : وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
اما بعد .
Hadirin sidang jumát yang di rahmati Allah,
Marilah kita bersama – sama bersyukur kepada Allah SWT. Karena pada hari ini kita masih di beri kenikmatan , khususnya nikmat sehat dan nikmat Iman dan nikmat Islam.
Sholawat dan salam selalu kita curahkan kepada pemberi syafaat kita , manusia termulia di dunia , yaitu nabi kita Muhammad Rasulullah SAW.
Selanjutnya ,  khotib berwasiat kepada diri khotib sendiri dan juga kepada para jamaáh sekalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah – perintah Allah dan menjauhi segala larangannya.
Sidang jumát yang di rahmati Allah, Allah berfirman dalam surat al- Baqorah :
وَقُلْنَا يَٰٓـَٔادَمُ ٱسْكُنْ أَنتَ وَزَوْجُكَ ٱلْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ ٱلشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ ٱلظَّٰلِمِينَ
Artinya : Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.( al- Baqoroh : 35 )
Ayat diatas menjelaskan kepada kita bahwa nabi Adam Alaihis salam beserta istrinya  adalah penghuni surga. Sebagaimana kita ketahui dari hadits nabi Muhammad , bahwasannya kehidupan di surga itu sangat ni’mat dan tidak bisa di bayangkan, sebab belum pernah ada yang melihat dan mendengarkannya.
Sidang jumát yang  di rahmati Allah.
Pada saat nabi Adam yang merupakan bapak dari seluruh manusia di muka bumi ini sedang meni’mati kehidupan di surga, ternyata ada makhluq Allah yang lain  yang tidak suka dengan Adam dan menggodanya untuk melanggar larangan Allah yang sebelumnya sudah ditaati oleh Adam dan Hawa. Makhluq tersebut tidak lain adalah Iblis. Maka Iblis dengan kesombongan dan kelicikannya mulai menggoda Adam. Bahkan Iblis berani bersumpah kepada Adam bahwa dia adalah penasihat bagi keduanya. Sebagai mana yang di kisahkan dalam al- qurán :surat al- a’raf : 21
 وَقَاسَمَهُمَآ إِنِّى لَكُمَا لَمِنَ ٱلنَّٰصِحِينَ
Artinya : Dan dia (syaitan) bersumpah kepada keduanya. "Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasehat kepada kamu berdua",
Pada akhirnya Iblis berhasil menggoda Adam , maka Adam dan Hawa memakan buah Khuldi yang sebelumnya telah di larang oleh Allah. Dan sebagai hukumannya , Adam dan Hawa di turunkan ke muka bumi dan tidak lagi tinggal di surga, sebagaimana di kisahkan di dalam al- Qurán dalam surat al- Baqorah : 36 ;
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّيْطَٰنُ عَنْهَا فَأَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيهِ ۖ وَقُلْنَا ٱهْبِطُوا۟ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ وَلَكُمْ فِى ٱلْأَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَمَتَٰعٌ إِلَىٰ حِينٍ
Artinya : Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan".
Sidang jumát yang di rahmati Allah.
Jika kita simak pada penuturan di atas , maka kita akan mendapati bahwa baik Adam maupun Iblis , maka kedua-duanya melakukan kemaksiatan kepada Allah . tetapi yang perlu kita cermati adalah dasar kemaksiatan  keduanya. Dasar kemaksiatan yang dilakukan oleh Adam AS. Adalah hawa nafsu , sedangkan kemaksiatan yang di lakukan Iblis dasarnya adalah kesombongan.
Sufyan Ats-Tsaury pernah berkata sebagai berikut.
من كل معصية عن شهوة فإنه يرجى غفرانه وكل معصية عن كبر لا يرجى غفرانه ، لأن معصية إبليس كان أصلها من الكبر وزلة سيدنا آدم كان أصلها الشهوة
“Setiap perbuatan maksiat yang muncul akibat dorongan hawa nafsu, itu masih dapat diharapkan ampunannya (dari Allah). Sedangkan setiap kedurhakaan yang muncul karena adanya rasa kesombongan, maka jangan diharapkan ampunannya. Karena kedurhakaan iblis itu timbul dari adanya sifat kesombongan,sedangkan kesalahan Adam adalah karena memperturutkan hawa nafsu atau syahwat.”
Sidang jumát yang di rahmati Allah.
Ada sebuah pertanyaan dari beberapa orang yang berhubungan dengan kemaksiatan tersebut, apakah jika Allah tidak memberikan ampunan kepada Iblis karena kemaksiatan tersebut , berarti Allah tidak maha pengampun ? atau Allah hanya memberikan ampunan kepada Adam AS. Berarti Allah berbuat pilih kasih dan tidak adil ?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut , kita harus memilah – milah perilaku antara Adam dan Iblis. Dalam menyikapi perbuatan yang telah mereka lakukan.
Marilah kita simak perbedaan perilaku keduanya setelah mereka melakukan kemaksiatan kepada Allah.
kemaksiat Adam dasarnya adalah :
kemaksiatan Iblis dasarnya adalah  :
1.    Melanggar larangan
2.    Karena hawa nafsu
3.    Adam bertaubat dan mengakui kesalahannya
1.    Meninggalkan perintah
2.    Karena kesombongan
3.    Iblis membangkang , sombong dan berjanji akan menyesatkan ummat manusia semua
Sidang jumát yang dirahmati Allah,
Allah telah memaparkan perbedaan mereka dalam al- Qurán . Keadaan Adam setelah berbuat kemaksiatan kepada Allah adalah sebagai berikut :
فَتَلَقَّىٰٓ ءَادَمُ مِن رَّبِّهِۦ كَلِمَٰتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ ﴿البقرة : 37)
Artinya : Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.
Selanjutnya , nabi Adam AS. Dengan sepenuh hati mengakui kesalahaannya dan bertaubat kepada Allah .
قَالا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ ( الأعراف/ 23)
Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi."
Sedangkan Keadaan Iblis setelah bermaksiat kepada Allah seperti yag telah di paparkan dalam al- Qurán adalah sebagai berikut :
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ ) البقرة/ 34.
Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir.
Iblis setelah menolak untuk melaksanakan perintah Allah, yaitu perintah untuk bersujud kepada Adam AS., bukan bertaubat kepada Allah , akan tetapi dengan kesombongannya , malah berniat untuk menyesatkan manusia semuanya, seperti yang di tuturkan dalam al- Qurán sebagai berikut :
قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ ) الحِجر/ 39 .
Ia (Iblis) berkata, "Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, aku pasti akan jadikan (kejahatan) terasa indah bagi mereka ( manusia ) di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya,
Hadirin sidang jumát yang di rahmati Allah.
Khotib memaparkan perbedaan dasar perbuatan maksiat dan dosa dari kesombongan dan Hawa nafsu , bukan berarti agar kita melanggar untuk berbuat dosa atas dasar hawa nafsu , akan tetapi mengingatkan bahwa masih ada kesempatan untuk bertaubat agar kita khusnul khotimah ketika nanti menghadap Sang Kholiq. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun atas segala kesalahan.
بارك الله لكم فى القرآن العظيم و نفعنى و إياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم و تقبل منى و منكم تلاوته  إنه هو السميع العليم.

KHUTBAH KEDUA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهْ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْه فَلاَ هَادِيَ لَهُ.
 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لا نبي بعده.
 قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. 
Sidang jumát yang di rahmati Allah.

Marilah kita menjaga diri kita dan keluarga kita agar terhindar dari sifat – sifat yang tercela , seperti kesombongan ,hasad,  iri , dengki . dan jika kita telah melakukan kesalahan atau kemaksiatan dan kita mengetahui serta menyadarinya  , maka hendaknya kita mengakui kesalahan tersebut dengan hati yang tulus dan bertaubat, sebab mengakui kesalahan itu adalah pintu menuju sebuah perbaikan diri.

اإعْلَمُوْا فَإِنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَالسَّلاَمِ عَلَى رَسُوْلِهِ فَقَالَ: {إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا}.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سيجنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سيدنا إِبْرَاهِيْمَ،. وَبَارِكْ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سيدنا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سيدنا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِسيدنا  إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
 اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ. اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.
اللهم سلمنا من آفات الدنيا و عذاب الآخرة و من فتنتهما و بليتهما و فضيحتهما إنك على كل شيئ قدير
اللهم أكرمنا بنور الفهم و افتح لنا أبواب رحمتك و انصر علينا حكمتك يا أرحم الراحمين
. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا.
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عباد الله , إن الله يأمر بالعدل و الإحسان و إيتاء ذي القربي و ينهي عن الفحشاء و
   المنكر و البغي يعظكم لعلكم تذكرون  . و لذكر الله أكبر . أقيموا الصلاة!


KHUTBAH . PELAJARAN DI BULAN RAMADHAN

Top of Form

Bottom of Form

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Kaum muslimin  Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah karena di hari yang mulia ini kita dikumpulkan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala
Hari Jumat merupakan hari raya kaum muslimin dalam setiap pekannya.
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Kaum muslimin  yang dirahmati Allah.
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang menjumpai kita, bulan yang mulia, yang diharapkan oleh orang-orang shalih perjumpaan dengannya. Di bulan tersebut, seseorang bisa mengumpulkan pahala yang banyak dengan waktu yang singkat demi mencapai kedudukan yang mulia di sisi Allah Ta’la.
Sejenak, marilah kita introspeksi, sudah berapa kali kita mendapati Ramadhan. Namun, apakah kita telah meraih pelajaran-pelajaran berharga dari bulan Ramadhan? Sudahkah Ramadhan membuahkan perubahan dalam pribadi kita ataukah hanya sekedar rutinitas belaka yang datang dan berlalu begitu saja?!
Oleh karenanya, perkenankanlah kami pada khotbah kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran Ramadhan, semoga dapat kita pahami, menjadi motivasi, dan dapat kita wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
Bulan
Ramadhan merupakan sekolah keimanan dan bengkel yang sangat manjur bagi orang yang mengetahuinya. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya, di antaranya:
Pelajaran pertama yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Ikhlas
Ikhlas merupakan fondasi pertama diterimanya suatu amalan ibadah seorang hamba. Dalam ibadah puasa secara khusus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Demikian pula dalam setiap amal ibadah kita, marilah kita ikhlaskan murni hanya untuk Allah semata sehingga kita tidak mengharapkan kepada selain Allah. Ingatlah bahwa sebesar apa pun ibadah yang kita lakukan tetapi bila tidak ikhlas mengharapkan wajah Allah maka sia-sia belaka dan  tiada berguna.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dikisahkan bahwa tiga golongan yang pertama kali dicampakkan oleh Allah adalah mujahid, pemberi shodaqoh, dan pembaca Alquran. Perhatikanlah, bukankah jihad merupakan amalan yang utama?! Bukankah shodaqoh dan membaca Alquran merupakan amalan yang sangat mulia? Namun, kenapa mereka malah dicampakkan ke neraka?! Jawabannya, karena mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.
Pelajaran kedua yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Mutaba’ah
Mengikuti sunah merupakan fondasi kedua untuk diterimanya suatu ibadah. Betapa pun ikhlasnya kita dalam beribadah tetapi kalau tidak sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tertolak dan tidak diterima. Oleh karenanya, dalam berpuasa kita meniru bagaimana puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengakhirkan sahur dan bersegera dalam berbuka.
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” (HR. Bukhori-Muslim)
Demikian pula dalam setiap ibadah lainnya, marilah kita berusaha untuk meniru agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga amal kita tidak sia-sia belaka.
Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap kebaikan dan kejayaan hanyalah dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun terkadang akal belum menerima sepenuhnya.
Dalam Perang Uhud, kenapa kaum muslimin mengalami kekalahan? Jawabannya, karena mereka tidak taat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, apabila kita menginginkan kejayaan maka hendaknya kita menghidupkan dan mengagungkan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan malah merendahkan dan melecehkannya!!
Pelajaran ketiga yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah takwa dan muroqobah
Meraih derajak takwa merupakan tujuan pokok ibadah puasa. Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa artinya takut kepada Allah dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya sesuai dengan sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, marilah kita koreksi dan bertanya pada hati kita masing-masing, apakah kita bertujuan hendak meraih tujuan puasa ini? Akankah kita memetik buah ketakwaan ini? Ataukah kita puasa hanya menjalaninya dengan anggapan sekadar rutinitas saja?
Seorang yang berpuasa tidak akan berbuka sekalipun manusia tidak ada yang mengetahuinya karena merasa takut dan merasa diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya. Demikianlah hendaknya kita dalam setiap saat merasa takut dan diawasi oleh Allah di mana pun berada dan kapan pun juga, terlebih ketika kita hanya seorang diri. Apalagi pada zaman kita ini, alat-alat kemaksiatan begitu mudah dikonsumsi, maka ingatlah bahwa itu adalah ujian agar Allah mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang takut kepada-Nya.
Pelajaran keempat yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Persatuan
Bersatu dan tidak berpecah belah merupakan suatu prinsip yang diajarkan Islam dalam banyak ayat Alquran dan hadis. Dalam puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ
“Puasa itu hari (ketika) manusia berpuasa dan hari raya itu hari (ketika) manusia berhari raya.” (HR. tirmidzi )
Ya, demikianlah ajaran Islam yang mulia. Lantas kenapa kita harus berpecah belah dan fanatik terhadap kelompok dan golongan masing-masing, padahal sembahan kita satu, Rasul kita satu, ka’bah kita satu, dan Alquran kita satu? Oleh karenanya, marilah kita rapatkan barisan kita dan rajut persatuan dengan mengikuti Alquran dan sunah, taat kepada pemimpin kita, dan mengingkari setiap pemikiran yang mengajak kepada perpecahan.
Pelajaran Kelima yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah kembali kepada Ajaran Alquran
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Alquran yang berisi petunjuk bagi umat manusia. Allah berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan  Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Maka hal ini memberikan pelajaran kepada kita kaum muslimin agar kembali kepada ajaran Alquran dengan membacanya, memahami isinya, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai cahaya dalam menapaki kehidupan ini.
Kehinaan yang menimpa kaum muslimin pada zaman sekarang tidak lain adalah disebabkan jauhnya mereka dari Alquran dan sunah.
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem al-inah (salah sistem menuju riba), kalian sibuk dengan ekor sapi, rela dengan tanaman, meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian dan Alah tidak mencabutnya dari kalian sehingga kalian kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud )
Demikian pula, bencana demi bencana yang menimpa negeri ini dari tsunami, banjir, tanah longsor, lumpur panas, dan sebagainya, barangkali semua itu karena perbuatan dosa umat manusia agar mereka segera menyadari dan kembali kepada ajaran agama yang suci. Allah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan disebabkan ulah perbuatan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Demi Allah, sesungguhnya kemaksiatan itu sangat berpengaruh pada keamanan suatu negeri, kenyamanan, dan perekonomian rakyat. Sebaliknya, ketaatan akan membawa keberkahan dan kebaikan suatu negera. Allah berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)
Pelajaran keenam yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah kasih sayang terhadap sesama
Bulan Ramadhan adalah bulan kasih sayang dan kedermawanan, karena bulan itu adalah bulan yang sangat mulia dan pahalanya berlipat ganda. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi apabila di bulan Ramadhan, sehingga digambarkan bahwa beliau lebih dermawan daripada angin yang kencang.
“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa, tanpa dikurangi dari pahala yang orang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Islam adalah agama yang rahmat (kasih sayang) kepada sesama. Bagaimana tidak, di antara nama Allah adalah Rahman dan Rahim (Maha penyayang), Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah penyayang, Alquran juga penyayang, lantas bagaimana ajaran Islam tidak menganjurkan umatnya untuk berbuat kasih sayang kepada sesama?
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Semoga dengan memahami pelajaran yang ada dalam bulan Ramadhan kita dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya sehingga keinginan untuk memperoleh derajat taqwa dapatlah kita raih. Kita hanya berharap kepada Allah semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan untuk memaksimalkan kesempatan baik ini. Amin ya robbal alamin.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan semoga bermanfaat, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan semoga rahmat dan karunia-Nya selalu menyertai kita. Amin
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم