Dia adalah gadis desa yang berada di daerah CIrebon. di desa tersebut Haula hanya menamatkan sekolah SMP.
sampai tamat SMP juga sudah lumayan , sebab mengingat bapak nya sudah tidak ada atau sudah meninggal dunia. setelah tamat SMP , dia ingin mengikuti jejak kakaknya yang sudah lebih dulu pergi ke jakarta, di sebuah Pesantren yang cukup ternama .
Di Pesantren tersebut , kakaknya kerja dan sambil kuliah , sebab bagi kakaknya , pendidikan adalah satu - satunya cara untuk keluar dari masalah yang selama ini di alaminya.
kabar tentang sekolahnya kakak Haulah terdengar sampai ke telinga Haulah, maka dengan modal nekad , dan berbekal Ijazah yang dimilikinya , Haulah merantau ke Jakarta dengan satu tujuan mengikuti jejak kakaknya, dan tujuannya adalah pesantren tersebut.
Di Pesantren tersebut , Haulah di pekerjakan di Kantin SD, tapi lama - kelamaan di tidak betah di kantin SD, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Pesantren dan ingin pergi ke Arab Saudi .
Sesampai di rumah , Ibunya tidak mengizinkan nya untuk pergi ke Arab. dan dengan hati yang hancur dan kecewa , akhirnya Haulah kembali bekerja di Pesantren dimana dia pernah bekerja sebelumnya.
Pada yang kedua kali ini , Haulah di pekerjakan di Dapur umum, yang harus melayani makan santri selama tiga kali sehari semalam. memang bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.
karena ingin mendapatkan pendapatan yang lebih , maka di sela-sela waktu luang di dapur , dia bekerja sampingan di rumah salah seorang guru di pesantren tersebut , yaitu menyetrika baju . lumayan , dengan menyetrika dia bisa dapat tambahan kira - kira RP. 150.000,- tiap bulan. tambahan tersebut cukup memberi semangat dia untuk melanjutkan sekolah di paket C di wilayah Bintaro.
Pada hari - hari pertama sekolah , Dia sangat bahagia menikmati sekolah paket tersebut, sebab , disamping untuk sekolah formal di tidak sanggup membiayai , apalagi orang tuanya, pada saat ini dia membiayai sekolah dengan uang nya sendiri.
Tapi , ditengah - tengah kebahagiaannya tersebut , ada sebuah berita yang bagaikan petir menyambar dirinya , yaitu : dia di pecat atau di keluarkan dari Pesantren tersebut secara sepihak , dengan tanpa mengetahui penyebabnya.
sungguh sebuah ironi , Pesantren , lembaga yang nota bene nya lembaga keagamaan , tapi dalam bertindak , kayaknya jauh dari sifat keagamaan.
Maka , datanglah Haulah ke rumah guru pesantren tersebut untuk menumpahkan tangis yang beberapa saat yang lalu di bendungnya, di keluarkan semua unek - unek yang ada dalam hatinya, muali dari kebingungannya , rasa malu kepada siapun yang di temuinya di pesantren , seolah - olah dia sudah berbuat kriminal di dalam peantren , samapi keluahan bahwa dia hanyalah orang kecil tak punya jabatan , sehingga diapun pasrah dan ikhlas dengan keputusan ini , tapi yang masih mengganjal dalam hatinya adalah bahwa dia tidak tahu akann kesalahannya yang menyebabkan di di keluarkan dari pesantren dan tidak boleh bekerja lagi di pesantren terbut.
Tapi , alhamdulillah, sekarang dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi dengan membantu di rumah salah seorang teman guru juga , akan tetapi dia sekarang tinggal di luar pesantren.
semoga perjuangannya di ridhoi oleh Allah.
Kau wanita yang gagah Haulah
Inna Ma'al 'Ushri Yusra
Rabu, 19 Mei 2010
Langganan:
Postingan (Atom)