Banyak sekali kasus yang disebabkan oleh ucapan. Baik kasus yang enak maupun yang tidak enak, baik kasus baik maupun yang tidak baik. maka , ucapan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam segala urusan.
Coba kita tengok , Kasus Antasari Azhar , kasus perseteruan antara para selebitri , itu semua berawal dari Ucapan yang salah di tempatkan, atau dengan kata lain , Ucapan salah tempat.
adapaun tempat adalah suatu yang dipakai untuk berdiam atau terjadinya suatu kegiatan atau materi.Contoh , Masjid adalh tempat terjadinya kegiatan sujud , Sekolah adalah tempat terjadinya kegiatan belajar mengajar dan sebagainya.
Ucapan tidak mesti dilakukan face to face dengan orang lain , tapi bisa juga melalui komentar atas terjadinya sesuatu.
Ada sebuah ungkapan dalam bahasa arab yang menunjukkan bahwa ucapan mampu merobek sesuatu yang tidak sanggup di tembus oleh pisau tajam " اللسان ينفذما لا تنفظه الإبر "
dilihat dari makna yang terkandung oleh ungkapan bijak tersebut , maka kita atau manusia atau makhluq yang mempunyai kemampuan mengungkapkan gagasan , yaitu manusia , harus berhati - hati dalam menyampaikan ungkapan , karena pengaruh dari dari ungkapan itu bisa sangat dahsyat pada diri pendengar, khususnya bagi orang yang sangat sensitif.
Kadang, banyak orang yang tidak bisa menempatkan posisi dirinya dalam menyampaikan pernyataan. hal itu banyak dipengaruhi oleh kedudukan orang tersebut pada strta sosial atau struktural. Bahkan mungkin jadi orang yang dianggap sangat faham akan ajaran dan nilai - nilai agama Islam.
Orang yang dianggap sangat faham akan etika , nilai dan norma tersebut menghardik , mengumpat atau memaki, hanya untuk menunjukan dirinya sebagai orang yang punya power secara sosial dan punya power daari sisi Struktural.
Praktek - praktek seperti itu tidak akan membawa maslahah banyak dan tidak akan dapat memberdayakan potensi - potensi yang terpendam pada diri orang yang dianggap bawahannya dalam struktur organisasi. Bahkan pada oraganisasi keluarga pun tidak membawa banyak manfaat , jika ucapan yang baik tapi tidak di ucapankan pada tempat dan waktu yang baik. Bahkan lebih bahaya, itu akan membawa dampak negatif yang besar dalam perkembangan kejiwaan dan hubungan dengan bathin dengan orang tua.
Perlu diingat , " ucapan yang baik , akan terasa lebih baik akibatnya , jika di bandingkan dengan sodaqoh yang di ikuti dengan kata - kata yang menyakitkan.
Wahai teman - teman
hati - hatilah dengan fikiran.....
karena itu akan menjadi ucapan..
hati - hatilah dengan Ucapan........
karena itu akan menjadi perbuatan
hati - hatilah dengan perbuatan
karena perbuatan yang menentukan nasib mu.........
semoga kita dapat mengambil ibarat dan pelajaran dari setiap erbuatan yang di kerjakan oleh orang lain.
amin
Minggu, 04 Oktober 2009
Sabtu, 27 Juni 2009
BUDI PEKERTI DAN MENTAL
Pendidikan budi pekerja akhir akhir ini menjadi suatu pembicaraan yang hangat di kalangan para pendidik dan para pemerhati pendidikan di tanah air ini.
pembicaraan ini tidak lepas dari kualitas hasil pendidikan yang ada di Indonesia.
Seperti kita ketahui , bahwa pendidikan yang ada di Indoensia ini lebih mengutamakan pendidikan yang hanya ber orientasi pada pendidikan Kognitif semata. walaupun cap atau setempel ini selalu di tolak dan dibantah oleh pihak pemerintah, dan pemerintah selalu mengatakan bahwa yang menentukan lulus atau tidak anak didik itu adalah bukan pemerintah , tetapi guru di sekolah . tapi dalam kenyataan nya , hal tersebut tidak berlaku dan tidak terjadi , sebab tolok ukur yang ada adalah bersifat kuantitatif , jika nilai anak didik kurang dari 5,5 maka anak didik tersebut di pastikan tidak lulus dalam menempuh ujian, sebaliknya , jika nilai lebih dari 5,5 tetapi ada nilai yang dibawah 4 ,maka anak tersebut tidak lulus dalam ujian.
hal - hal tadi mengindikasikan bahwa pendidikan yang ada di Indonesia ini hanya mementingkan nilai - nilai yang bersifat Kognitif semata.
sebagai akibat dari pendidikan yang ber orientasi pada kognitif, maka tidak mengherankan jika dalam perilaku sehari - hari , anak didik kita terlihat seperti orang yang tidak memperhatikan nilai - nilai dan norma - norma , seperti :
1. kurang punya rasa empati
2. kurang mempunyai rasa hormat
3. Kurang mempunyai nilai nilai tata krama
4. anak - anak kurang sabar dalam berusaha
5. ingin serba instan dan serba cepat
6. tidak perduli pada nilai nilai agama
7. dsb masih banyak
maka sudah waktunya untuk merubah paradigma pendidikan yang ada di Indonesia, demi Indonesia di masa depan dan demi anak bangsa
Kita harus ingat , bahwa jika kualitas pendidikan kita sekarang amburadul , maka pada masa sepuluh tahun yang akan datang , atau bahkan mungkin satu generasi kita akan hilang ( lost generation ). dan kita tidak menginginkan itu.
pembicaraan ini tidak lepas dari kualitas hasil pendidikan yang ada di Indonesia.
Seperti kita ketahui , bahwa pendidikan yang ada di Indoensia ini lebih mengutamakan pendidikan yang hanya ber orientasi pada pendidikan Kognitif semata. walaupun cap atau setempel ini selalu di tolak dan dibantah oleh pihak pemerintah, dan pemerintah selalu mengatakan bahwa yang menentukan lulus atau tidak anak didik itu adalah bukan pemerintah , tetapi guru di sekolah . tapi dalam kenyataan nya , hal tersebut tidak berlaku dan tidak terjadi , sebab tolok ukur yang ada adalah bersifat kuantitatif , jika nilai anak didik kurang dari 5,5 maka anak didik tersebut di pastikan tidak lulus dalam menempuh ujian, sebaliknya , jika nilai lebih dari 5,5 tetapi ada nilai yang dibawah 4 ,maka anak tersebut tidak lulus dalam ujian.
hal - hal tadi mengindikasikan bahwa pendidikan yang ada di Indonesia ini hanya mementingkan nilai - nilai yang bersifat Kognitif semata.
sebagai akibat dari pendidikan yang ber orientasi pada kognitif, maka tidak mengherankan jika dalam perilaku sehari - hari , anak didik kita terlihat seperti orang yang tidak memperhatikan nilai - nilai dan norma - norma , seperti :
1. kurang punya rasa empati
2. kurang mempunyai rasa hormat
3. Kurang mempunyai nilai nilai tata krama
4. anak - anak kurang sabar dalam berusaha
5. ingin serba instan dan serba cepat
6. tidak perduli pada nilai nilai agama
7. dsb masih banyak
maka sudah waktunya untuk merubah paradigma pendidikan yang ada di Indonesia, demi Indonesia di masa depan dan demi anak bangsa
Kita harus ingat , bahwa jika kualitas pendidikan kita sekarang amburadul , maka pada masa sepuluh tahun yang akan datang , atau bahkan mungkin satu generasi kita akan hilang ( lost generation ). dan kita tidak menginginkan itu.
Selasa, 23 Juni 2009
BELAJAR DARI KHAIDIR DAN MUSA
Di dalam al – Qur’an di sebutkan bahwa terjadi pertemuan antara Nabi Musa dengan Nabi Khaidir , dimana Nabi Musa meminta kepada Nabi Khaidir untuk bisa mengabdi dan mengikuti langkah perjalanan nabi Khaidir kemanapun beliau pergi , dengan harapan nabi musa ingin agar Nabi Khaidir mengajarkan kepadanya sebagian ilmunya yang telah di ajarkan Allah kepada nabi Khaidir.
Dan akhirnya nabi Khaidirpun mengijinkan nabi Musa untuk mengikutinya, seperti yang telah di tuturkan dalam al- Qur’an surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 67
قال إنك لن تستطيع معي صبرا
Artinya : “Dia ( Khaidir ) menjawab : sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup sabar bersamaku “
Jawaban Kahidir tersebut memberi isyarat halus kepada Musa bahwa beliau mengizinkannya , akan tetapi Khaidir memberi peringatan akan beratnya beban yang akan di terima Musa dalam perjalan nanti , dengan kata – kata “ sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup “
Akan tetapi Musa tidak menghiraukan peringatan dari Khaidir tersebut , sebab dalam pengetahuan Musa , maka Khaidir adalah salah satu hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu dari sisi Allah yang maha Esa. Bahkan Musa pun sangup mengucapkan janji kepa Khaidir bahwasannya dia akan taat dan sabar selama mengikuti Khaidir, seperti yang tertera di dalam ayat berikut ini :
Surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 69
قال ستجدنى إن شاء الله صابرا و لا أعصى لك أمرا.
Artinya : Musa berkata “ Insya Allah kamu akan mendapati saya sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanmu “
Akhirnya Khaidir pun memberikan syarat kepada Musa , jika memang ingin tetap mengikutinya dengan kata – lata sebagai berikut :
Al- Kahfi ayat : 70
قال : فإن اتبعتنى فلا تسألنى عن شيء حتى أحدث لك منه ذكرا
Artiya :Dia berkata : jika kamu mrngikuti ku , maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun , sampai aku sendiri menerangkan kepadamu.
Ujian – ujian bagi Musa
Khaidir membocorkan perahu yang sedang di naiki , Khadir membunuh seorang anak , khaidir membetulkan dinding rumah.
Pada kesemua peristiwa tersebut , maka Musa tidak bisa menepati janjinya untuk tidak memberi komentar dan bertanya kepada Khaidir tentang peristiwa – peristiwa tersbut. Dan pada setiap pertanyaan tersebut pula Khaidir memberikan peringatan kepada Musa , bahwasannya dia tidak akan sanggup mengikuti jejak langkahnya. Sampai akhirnya Khaidir harus menerangkan sendiri tentang peristiwa – peristiwa tersebut dan hikmah-hikmah nya. Dan hari tersebut adalah hari perpisahan Musa denga gurunya ( Khaidir ), karena Musa selalu tidak menepati janjinya kepada Khaidir, dengan ungkapan sebagai berikut : al- Kahfi : 78
قال هذا فراق بينى و بينك سأنبأك بتأويل ما لم تستطع عليه صبرا
Artinya : “haidir berkata : inilah perpisahan antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan – perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya “
Dalam keterangan Khaidir maka di dapatkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perahu tersebut adalah kepunyaan orang Miskin , yang jika tidak di lubangi , maka akan di rampas oleh seorang raja.
2. Sedangkan anak yang dibunuh adalah kedua orang tuanya mukmin , yang dikhawatrikan Khaidir , maka kelak anak terbut akan mendorong orang tuanya kepada kesesatan , dan berdoa , semoga Allah mengganti deengan anak yang lebih baik lagi;
3. sedangkan rumah tersebut adalah kepunyaan anak yatim di kota , dan di bawah rumah tersebut tersimpan harta bagi anak yatim tersebut, jika kelak dewasa anak tersebut diharapkan untuk sampai ke tempat tersebut dan mengeluarkan hartanya sebagai rahmat dari Tuhan yang maha Esa.
PELAJARAN YANG BISA DI AMBIL
Dari Khaidir : sebagai guru maka :
1. khaidir sangat menguasai ilmu yang di ajarkan kepada Musa
2. Khaidir konsisten terhadap nilai –nilai dalam mengajar , walaupun selalu tidak dipercaya Musa
3. sangaggup menerangkan pada waktu yang tepat
4. tidak menghardik murid walaupun muridnya selalu bertanya karena tidak faham ( sayang dan membimbing )
5. Selalu berkata lembut kepada muridnya
6. Seorang murid itu harus mengejar ilmu dan guru , dan bukan sebaliknya
7. Khaidir adalah tipe guru sejati , yang sanggup memberi inspirasi kepada murid- muridnya, sebab ada ungkapan sebagai berikut “ guru biasa itu berbicara , guru bagus itu menerangkan , guru hebat itu sanggup mendemonstrasikan sedangkan guru agung itu sanggup memberikan inspirasi “
dari Musa, sebagai murid , maka :
1. sebagai seorang murid , maka Musa adalah murid yang selalu ingin bersabar dalam menuntut ilmu
2. dalam berbicara dengan guru nya , maka dia sangat lemah lembut dan sopan kepada gurunya
3. Musa adalah nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah
4. Musa sangat menghormati gurunya
5. Musa sangat patuh pada setiap ucapan gurunya
6. Musa meminta izin gurunya dan meminta ridho ilmunya dalam menuntut ilmu kepada Khaidir
7. Musa sebagai representasi murid yang tawadlu’ dan tidak pongah serta merendahkan diri kepada guru ketika hendak belajar kepada guru , dan tidak merasa pintar
8. Musa sangat percaya bahwa ilmu itu di ajarkan oleh Allah
9. Musa selalu berdoa agar tidak tersesat dalam menuntut ilmu
Semoga bermanfaat.
Wassalam ,
Dan akhirnya nabi Khaidirpun mengijinkan nabi Musa untuk mengikutinya, seperti yang telah di tuturkan dalam al- Qur’an surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 67
قال إنك لن تستطيع معي صبرا
Artinya : “Dia ( Khaidir ) menjawab : sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup sabar bersamaku “
Jawaban Kahidir tersebut memberi isyarat halus kepada Musa bahwa beliau mengizinkannya , akan tetapi Khaidir memberi peringatan akan beratnya beban yang akan di terima Musa dalam perjalan nanti , dengan kata – kata “ sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup “
Akan tetapi Musa tidak menghiraukan peringatan dari Khaidir tersebut , sebab dalam pengetahuan Musa , maka Khaidir adalah salah satu hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu dari sisi Allah yang maha Esa. Bahkan Musa pun sangup mengucapkan janji kepa Khaidir bahwasannya dia akan taat dan sabar selama mengikuti Khaidir, seperti yang tertera di dalam ayat berikut ini :
Surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 69
قال ستجدنى إن شاء الله صابرا و لا أعصى لك أمرا.
Artinya : Musa berkata “ Insya Allah kamu akan mendapati saya sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanmu “
Akhirnya Khaidir pun memberikan syarat kepada Musa , jika memang ingin tetap mengikutinya dengan kata – lata sebagai berikut :
Al- Kahfi ayat : 70
قال : فإن اتبعتنى فلا تسألنى عن شيء حتى أحدث لك منه ذكرا
Artiya :Dia berkata : jika kamu mrngikuti ku , maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun , sampai aku sendiri menerangkan kepadamu.
Ujian – ujian bagi Musa
Khaidir membocorkan perahu yang sedang di naiki , Khadir membunuh seorang anak , khaidir membetulkan dinding rumah.
Pada kesemua peristiwa tersebut , maka Musa tidak bisa menepati janjinya untuk tidak memberi komentar dan bertanya kepada Khaidir tentang peristiwa – peristiwa tersbut. Dan pada setiap pertanyaan tersebut pula Khaidir memberikan peringatan kepada Musa , bahwasannya dia tidak akan sanggup mengikuti jejak langkahnya. Sampai akhirnya Khaidir harus menerangkan sendiri tentang peristiwa – peristiwa tersebut dan hikmah-hikmah nya. Dan hari tersebut adalah hari perpisahan Musa denga gurunya ( Khaidir ), karena Musa selalu tidak menepati janjinya kepada Khaidir, dengan ungkapan sebagai berikut : al- Kahfi : 78
قال هذا فراق بينى و بينك سأنبأك بتأويل ما لم تستطع عليه صبرا
Artinya : “haidir berkata : inilah perpisahan antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan – perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya “
Dalam keterangan Khaidir maka di dapatkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perahu tersebut adalah kepunyaan orang Miskin , yang jika tidak di lubangi , maka akan di rampas oleh seorang raja.
2. Sedangkan anak yang dibunuh adalah kedua orang tuanya mukmin , yang dikhawatrikan Khaidir , maka kelak anak terbut akan mendorong orang tuanya kepada kesesatan , dan berdoa , semoga Allah mengganti deengan anak yang lebih baik lagi;
3. sedangkan rumah tersebut adalah kepunyaan anak yatim di kota , dan di bawah rumah tersebut tersimpan harta bagi anak yatim tersebut, jika kelak dewasa anak tersebut diharapkan untuk sampai ke tempat tersebut dan mengeluarkan hartanya sebagai rahmat dari Tuhan yang maha Esa.
PELAJARAN YANG BISA DI AMBIL
Dari Khaidir : sebagai guru maka :
1. khaidir sangat menguasai ilmu yang di ajarkan kepada Musa
2. Khaidir konsisten terhadap nilai –nilai dalam mengajar , walaupun selalu tidak dipercaya Musa
3. sangaggup menerangkan pada waktu yang tepat
4. tidak menghardik murid walaupun muridnya selalu bertanya karena tidak faham ( sayang dan membimbing )
5. Selalu berkata lembut kepada muridnya
6. Seorang murid itu harus mengejar ilmu dan guru , dan bukan sebaliknya
7. Khaidir adalah tipe guru sejati , yang sanggup memberi inspirasi kepada murid- muridnya, sebab ada ungkapan sebagai berikut “ guru biasa itu berbicara , guru bagus itu menerangkan , guru hebat itu sanggup mendemonstrasikan sedangkan guru agung itu sanggup memberikan inspirasi “
dari Musa, sebagai murid , maka :
1. sebagai seorang murid , maka Musa adalah murid yang selalu ingin bersabar dalam menuntut ilmu
2. dalam berbicara dengan guru nya , maka dia sangat lemah lembut dan sopan kepada gurunya
3. Musa adalah nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah
4. Musa sangat menghormati gurunya
5. Musa sangat patuh pada setiap ucapan gurunya
6. Musa meminta izin gurunya dan meminta ridho ilmunya dalam menuntut ilmu kepada Khaidir
7. Musa sebagai representasi murid yang tawadlu’ dan tidak pongah serta merendahkan diri kepada guru ketika hendak belajar kepada guru , dan tidak merasa pintar
8. Musa sangat percaya bahwa ilmu itu di ajarkan oleh Allah
9. Musa selalu berdoa agar tidak tersesat dalam menuntut ilmu
Semoga bermanfaat.
Wassalam ,
Senin, 25 Mei 2009
KEBOHONGAN SEORANG IBU
Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman2 sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir2 teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
Ingatlah akan hadits nabi yang menyatakan bahwa " surga itu di bawah telapak kaki ibu"
Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya. Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.
Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan porsi nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———- KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA
Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekiat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping ku dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA
Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata :”Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata :”Cepatlah tidur nak, aku tidak capek” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA
Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata :”Minumlah nak, aku tidak haus!” ———- KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT
Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA
Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya punya duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM
Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku “Aku tidak terbiasa” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH
Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.
Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta
menutup matanya untuk yang terakhir kalinya.
Dari cerita di atas, saya percaya teman2 sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : ” Terima kasih ibu ! ” Coba dipikir2 teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian.
Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah.
coba kita renungkan kembali lagi.. Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orang tua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.
Ingatlah akan hadits nabi yang menyatakan bahwa " surga itu di bawah telapak kaki ibu"
Senin, 11 Mei 2009
aku mengadu pada MU 1
cerita ini berawal ketika saya diangkat menjadi CPNS. pada bulan Oktober 2008 saya d panggil oleh bagian personalia KANWIL. panggilan tersebut berisi bahwa saya diangkat jadi CPNS , dan saya diberi NIP , dengan TMT ( tanggal mulai tugas ) pada 1 januari 2007.
Jadi pada Saat saya dipanggil itu , saya sudah menjadi CPNS selama 1 tahun, tapi saya baru dapat surat tugas pada 1 Desember 2009, dan akhirnya saya dapat gaji pertama pada bulan Februari 2009.
Ketika saya dapat NIP , saya dengan senang hati menerima itu ,dalam hati saya berfikir , bahwa nanti saya akan dapat membantu orang tua saya yang di kampung, yang sekarang tinggal dengan adik saya yang bungsu , setelah di tinggal oleh bapak saya.dan ibu saya tercinta sekarang sudah berumur 64 tahun, dengan pekerjaan setiap hari menjual toge di pasar , setiap malam jam sepuluh belum tidur , karena harus mengurus toge yang akan di jual 2 hari kemudian , dan besok pagi - pagi sekitar jam 4 pagi sudah harus bangun lebih dulu , untuk melaksanakan sholat subuh dan mengurus toge , dan membersihkannya untuk di jual di pasar. hal itu dilakukan setiap hari tanpa lelah , sejak tahun 1975, yang kira - kira saat itu saya baru saja berumur 9 tahun.
maklum , ibu saya dan bapak saya tinggal di desa , bapak seorang buruh tani , sementara ibu adalah ibu rumah tangga, untuk menckupi itu , maka ibu jualan toge.
kembali kepada CPNS tadi , sebelum saya jadi CPNS , saya bernadzar , jika saya diagkat jadi PNS, maka gaji yang pertama , akan saya berikan kepada Ibu tercinta saya, gaji kedua , akan saya berikan kepada mertua , dan gaji saya yang ketiga akan saya berikan kepada anak yatim dan anak miskin , dan gaji keempat akan saya buat makan bersama teman - teman.
pada saat gaji yang keempat , tepatnya pada bulan MEI 2009 , saya ambil ke DEPAG , maka saya dengan senang hati bahwa ini adalah nadzar terakhir , sehingga setelah ini saya akan dapat menikmati gaji dari DEPAG , dan keluarga saya dapat tambahan untuk memperbaiki kualitas kesejahteraan dan juga membantu kehidupan ibu saya , mertua dan juga melanjutkan membangun rumah, itu impian yang telah ada dalam benak saya dan juga istri tercinta saya.
Tapi impian saya dengan sekejap buyar sama sekali, hal itu diakibatkan oleh kebijaksanaan lembaga tempat saya bekerja , bahwa guru yang PNS , seluruh gaji yang di dapat dari lembaga harus dikurangi dengan yang di dapat PNS.
jadi tidak ada bedanya sekarang antara yang PNS dan yang bukan PNS, sama saja , yaaaaa sama saja tidak ada bedanya.
dalam hati saya begitu kaget , bahwa ketika saya melihat slip gaji saya , gaji saya dipotong 1.490.000 rupiah , seaut jumlah yang tidak sedikit bagi saya, karena memaang saya dan keluarga saya membutuhkan itu , untuk keperluan sehari - hari , untuk persiapan tahun ajaran baru karena anak sudah muali masuk sekolah ke tingkat SMP , untuk melanjtukan ciclan hutang bangun rumah, untuk membantu orang tua , untuk masa depan pendidikan anak saya dan lain sebagainya.
ketika saya melihat slip saya , saya hanya bisa beristighfar dalam hati sambil mendesah , ya ALLAH ,tega amat , ya ALLAH saya dari dulu hampir tidak pernah menghitung - hitung ketika berbuat untuk lembaga saya ini dari sisi materi , kapanpun ada tugas yang harus saya kerjakan , maka saya siap . dan itu sudah berlaku sejak kira - kira 22 tahu yang lalu, tapi sekarang dalam hati saya berfikir , " yang Allah kenapa lembaga yang saya sudah bersamanya selama ini , begitu perhitungan sama saya , setiap gerakan dihitung dengan rupiah , begitu materialistis kepada yang sudah bersamanya selama ini , padahal setiap kali pula selalu menyeru untuk selalu ikhlas , ikhlas , ikhlas . kalimat ikhlas itulah yang selalu menjadi ungkapan kepada kami, akhirnya saya pun mengadu kepada MU ya Allah , haruskah saya juga berfikir materialistis seperti apa yang sudah di ajarkan lembaga yang saya bersamanya sampai saat ini, padahal saya tahu ya Allah itu bukan ajaran Islam , ajaran yang saya yakini sampai saat ini." " Akhirnya saya pun juga berfikir , apakah lembaga ini tidak menghendaki orang - orang yang berada di lembaga ini tidak boleh hidup lebih baik lagi dari sisi lahiriah nya , apakah ada semacam ketidak relaaan " saya pun tidak tahu..........
Bukan saya tidak rela di potong , tapi mengapa semuanya dipotong. di lembaga lain ada yang gaji PNSnya diberikan sebanyak 50 tau 60 atau 70 % saja, tapi di lembaga saya ini gaji PNS diambil semuanya. Ya Allaaah ( atau dengan bahasa yang halus , gajinya tidak di potong , tapi pendapatnnya dari lembaga dikurangi sebesar yang di terima dari gaji PNS )
Ya Alah , apakah menjadi PNS itu haram hukumnya? apakah jadi PNS itu Menjijikkan ? aapakah Menjadi PNS itu juga menjadikan orangnya berfikirran juga seperti pikiran orang - orang PNS selama ini ? malas , bekerja hanya untuk proyek . Ya Allah saya tidak seperti itu ya Allah, tidak , tidak sama sekali tidak.
Ya Allah , saya di persipangan jalan , ya Allah tolonglah hamba MU ini , ya Allah hamba Mu ini tidak ingin segala amal yang telah di perbuatnya di dunia ini SIA SIA belaka , karena ada onak dan duri dalam hati , karena berfikir dalam setiap tindkan dengan patokan materi , tapi Ya Allaaaaah hamba MU ini tidak munafik bahwa juga ingin hidup secara duniawi agak lebih baik, bukankah harus ada keseimbangan dalam hidup ini.
ya Allah , hamba Mu sampai saat ini tidak tahu , harus bagaimana , untuk menggapai pada firman MU " min haisu laa yahtasib ", karena samapi saat ini hamba MU ini hanya melihat kepada yang lahir , " nahkumu bith thowahir Wa Allah yatawallas saraair "
Ya Allah , hamba Mu ini mohon , agar kuat menerima cobaan hati ini , ya Allah aku mengadu pada MU , karena hamba MU ini mengikuti firman MU, karena memang hanya Engkaku yang mampu menjawab pertanya dalam hati ku.
ya Allah , jangan bosan jika Hamba MU ini mengadu , sebab Engkau Mesti tidak suka jika hamba MU ini tidak menyapaMU ,
Ya Allah ampunilah Hamba MU jika keluhan ku ini tidak pada tempatnya.
hamba Mu bersujud keharibaanMU
Jadi pada Saat saya dipanggil itu , saya sudah menjadi CPNS selama 1 tahun, tapi saya baru dapat surat tugas pada 1 Desember 2009, dan akhirnya saya dapat gaji pertama pada bulan Februari 2009.
Ketika saya dapat NIP , saya dengan senang hati menerima itu ,dalam hati saya berfikir , bahwa nanti saya akan dapat membantu orang tua saya yang di kampung, yang sekarang tinggal dengan adik saya yang bungsu , setelah di tinggal oleh bapak saya.dan ibu saya tercinta sekarang sudah berumur 64 tahun, dengan pekerjaan setiap hari menjual toge di pasar , setiap malam jam sepuluh belum tidur , karena harus mengurus toge yang akan di jual 2 hari kemudian , dan besok pagi - pagi sekitar jam 4 pagi sudah harus bangun lebih dulu , untuk melaksanakan sholat subuh dan mengurus toge , dan membersihkannya untuk di jual di pasar. hal itu dilakukan setiap hari tanpa lelah , sejak tahun 1975, yang kira - kira saat itu saya baru saja berumur 9 tahun.
maklum , ibu saya dan bapak saya tinggal di desa , bapak seorang buruh tani , sementara ibu adalah ibu rumah tangga, untuk menckupi itu , maka ibu jualan toge.
kembali kepada CPNS tadi , sebelum saya jadi CPNS , saya bernadzar , jika saya diagkat jadi PNS, maka gaji yang pertama , akan saya berikan kepada Ibu tercinta saya, gaji kedua , akan saya berikan kepada mertua , dan gaji saya yang ketiga akan saya berikan kepada anak yatim dan anak miskin , dan gaji keempat akan saya buat makan bersama teman - teman.
pada saat gaji yang keempat , tepatnya pada bulan MEI 2009 , saya ambil ke DEPAG , maka saya dengan senang hati bahwa ini adalah nadzar terakhir , sehingga setelah ini saya akan dapat menikmati gaji dari DEPAG , dan keluarga saya dapat tambahan untuk memperbaiki kualitas kesejahteraan dan juga membantu kehidupan ibu saya , mertua dan juga melanjutkan membangun rumah, itu impian yang telah ada dalam benak saya dan juga istri tercinta saya.
Tapi impian saya dengan sekejap buyar sama sekali, hal itu diakibatkan oleh kebijaksanaan lembaga tempat saya bekerja , bahwa guru yang PNS , seluruh gaji yang di dapat dari lembaga harus dikurangi dengan yang di dapat PNS.
jadi tidak ada bedanya sekarang antara yang PNS dan yang bukan PNS, sama saja , yaaaaa sama saja tidak ada bedanya.
dalam hati saya begitu kaget , bahwa ketika saya melihat slip gaji saya , gaji saya dipotong 1.490.000 rupiah , seaut jumlah yang tidak sedikit bagi saya, karena memaang saya dan keluarga saya membutuhkan itu , untuk keperluan sehari - hari , untuk persiapan tahun ajaran baru karena anak sudah muali masuk sekolah ke tingkat SMP , untuk melanjtukan ciclan hutang bangun rumah, untuk membantu orang tua , untuk masa depan pendidikan anak saya dan lain sebagainya.
ketika saya melihat slip saya , saya hanya bisa beristighfar dalam hati sambil mendesah , ya ALLAH ,tega amat , ya ALLAH saya dari dulu hampir tidak pernah menghitung - hitung ketika berbuat untuk lembaga saya ini dari sisi materi , kapanpun ada tugas yang harus saya kerjakan , maka saya siap . dan itu sudah berlaku sejak kira - kira 22 tahu yang lalu, tapi sekarang dalam hati saya berfikir , " yang Allah kenapa lembaga yang saya sudah bersamanya selama ini , begitu perhitungan sama saya , setiap gerakan dihitung dengan rupiah , begitu materialistis kepada yang sudah bersamanya selama ini , padahal setiap kali pula selalu menyeru untuk selalu ikhlas , ikhlas , ikhlas . kalimat ikhlas itulah yang selalu menjadi ungkapan kepada kami, akhirnya saya pun mengadu kepada MU ya Allah , haruskah saya juga berfikir materialistis seperti apa yang sudah di ajarkan lembaga yang saya bersamanya sampai saat ini, padahal saya tahu ya Allah itu bukan ajaran Islam , ajaran yang saya yakini sampai saat ini." " Akhirnya saya pun juga berfikir , apakah lembaga ini tidak menghendaki orang - orang yang berada di lembaga ini tidak boleh hidup lebih baik lagi dari sisi lahiriah nya , apakah ada semacam ketidak relaaan " saya pun tidak tahu..........
Bukan saya tidak rela di potong , tapi mengapa semuanya dipotong. di lembaga lain ada yang gaji PNSnya diberikan sebanyak 50 tau 60 atau 70 % saja, tapi di lembaga saya ini gaji PNS diambil semuanya. Ya Allaaah ( atau dengan bahasa yang halus , gajinya tidak di potong , tapi pendapatnnya dari lembaga dikurangi sebesar yang di terima dari gaji PNS )
Ya Alah , apakah menjadi PNS itu haram hukumnya? apakah jadi PNS itu Menjijikkan ? aapakah Menjadi PNS itu juga menjadikan orangnya berfikirran juga seperti pikiran orang - orang PNS selama ini ? malas , bekerja hanya untuk proyek . Ya Allah saya tidak seperti itu ya Allah, tidak , tidak sama sekali tidak.
Ya Allah , saya di persipangan jalan , ya Allah tolonglah hamba MU ini , ya Allah hamba Mu ini tidak ingin segala amal yang telah di perbuatnya di dunia ini SIA SIA belaka , karena ada onak dan duri dalam hati , karena berfikir dalam setiap tindkan dengan patokan materi , tapi Ya Allaaaaah hamba MU ini tidak munafik bahwa juga ingin hidup secara duniawi agak lebih baik, bukankah harus ada keseimbangan dalam hidup ini.
ya Allah , hamba Mu sampai saat ini tidak tahu , harus bagaimana , untuk menggapai pada firman MU " min haisu laa yahtasib ", karena samapi saat ini hamba MU ini hanya melihat kepada yang lahir , " nahkumu bith thowahir Wa Allah yatawallas saraair "
Ya Allah , hamba Mu ini mohon , agar kuat menerima cobaan hati ini , ya Allah aku mengadu pada MU , karena hamba MU ini mengikuti firman MU, karena memang hanya Engkaku yang mampu menjawab pertanya dalam hati ku.
ya Allah , jangan bosan jika Hamba MU ini mengadu , sebab Engkau Mesti tidak suka jika hamba MU ini tidak menyapaMU ,
Ya Allah ampunilah Hamba MU jika keluhan ku ini tidak pada tempatnya.
hamba Mu bersujud keharibaanMU
Senin, 04 Mei 2009
HARI PERTAMA DI UNITED KINGDOM
Pada tanggal 13 Maret 2009 ini , saya dan Ust. Dede Abdurrahman diberi amanat untuk mengunjungi sekolah partner kita yang ada di United Kingdom.Sekolah tersebut adalah sekolah Katolik, yaitu Holy Family Catholic School atau yang biasa disingkat dengan HFCS.Kunjungan ini adalah kunjungan timbal balik untuk saling mengisi dan saling belajar tentang kelebihan dari masing – masing sekolah untuk bisa di terapkan di sekolah masing – masing demi meningkatkan kualitas pendidikan untuk masa – masa yang akan datang.
Hari pertama kami datang di Manchester, kami merasa aneh dengan keadan yang sama sekali berbeda dengan yang biasa kami alami di Indonesia, dari makanan, cuaca, alam, keadaan social, dan kebiasaan masyarakat disana. Hal pertama kali yang langsung dirasa adalah cuaca. Dingin. Untuk itu, sebelum berangkat kami sudah menyiapkan perlengkapan untuk menghadapi kondisi yang memang diluar kebiasaan kami. Jas, jaket tebal, celana ketat, kaos tebal, tutup kepala, termasuk makanan bagi masyarakat Indonesia jika ingin bepergian ke luar negeri, yaitu Mie Instan, dan tak lupa bahan obat – obatan jika masuk angin, seperti antangin, obat pilek, pusing, dan minyak angina cap kapak, serta vitamin – vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga stamina tubuh. Hal ini sangat bisa di maklumi, karena kami adalah orang – orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi Eropa, jadi, semuannya serba diliputi oleh kekawatiran – kekawatiran. Dan juga lebih baik menjaga dari pada terjadi hal hal yang tidak diinginkan di negeri orang, seperti sakit dan lain sebagainya, karena itu hal yang sangat tidak nyaman untuk bagi orang asing di negeri orang.
Selanjutnya kami diajak ke tempat penginapan , tepatnya di Beeches ,dekat dengan sekolah yang akan kami kunjungi . jaraknya tidak lebih dari 10 menit perjalanan, jadi kami santai dan nyaman di sana.
Sampai di Hotel , kami di ajak makan dan setelah itu kami terlelap tidur samapi pagi.
Hari pertama kami datang di Manchester, kami merasa aneh dengan keadan yang sama sekali berbeda dengan yang biasa kami alami di Indonesia, dari makanan, cuaca, alam, keadaan social, dan kebiasaan masyarakat disana. Hal pertama kali yang langsung dirasa adalah cuaca. Dingin. Untuk itu, sebelum berangkat kami sudah menyiapkan perlengkapan untuk menghadapi kondisi yang memang diluar kebiasaan kami. Jas, jaket tebal, celana ketat, kaos tebal, tutup kepala, termasuk makanan bagi masyarakat Indonesia jika ingin bepergian ke luar negeri, yaitu Mie Instan, dan tak lupa bahan obat – obatan jika masuk angin, seperti antangin, obat pilek, pusing, dan minyak angina cap kapak, serta vitamin – vitamin yang dibutuhkan untuk menjaga stamina tubuh. Hal ini sangat bisa di maklumi, karena kami adalah orang – orang yang baru pertama kali menginjakkan kaki di bumi Eropa, jadi, semuannya serba diliputi oleh kekawatiran – kekawatiran. Dan juga lebih baik menjaga dari pada terjadi hal hal yang tidak diinginkan di negeri orang, seperti sakit dan lain sebagainya, karena itu hal yang sangat tidak nyaman untuk bagi orang asing di negeri orang.
Selanjutnya kami diajak ke tempat penginapan , tepatnya di Beeches ,dekat dengan sekolah yang akan kami kunjungi . jaraknya tidak lebih dari 10 menit perjalanan, jadi kami santai dan nyaman di sana.
Sampai di Hotel , kami di ajak makan dan setelah itu kami terlelap tidur samapi pagi.
Kamis, 19 Februari 2009
IKHLAS
Jika anda merasakan kekeringan ruhiyah, kegersangan ukhuwah, kekerasan hati, hasad, perselisihan, friksi, dan perbedaan pendapat yang mengarah ke permusuhan, berarti ada masalah besar dalam tubuh mereka. Dan itu tidak boleh dibiarkan. Butuh solusi tepat dan segera.
Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”
Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”
Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”
Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.
Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Makna Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.
Karena itu, ikhlas bagi seseorang adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Seseorang yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.
Buruknya Riya
Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).
Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)
Ciri Orang Yang Ikhlas
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam bermasyarakat , akan terlihat bahwa seorang yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya , sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Seseorang yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam masyarakatnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
Jika merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah, kita akan menemukan pangkal masalahnya, yaitu hati yang rusak karena kecenderungan pada syahwat. “Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” (Al-Hajj: 46). Rasulullah saw. bersabda, “Ingatlah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka seluruh tubuhnya baik; dan jika buruk maka seluruhnya buruk. Ingatlah bahwa segumpul daging itu adalah hati.” (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Al-Ghazali pernah ditanya, “Apa mungkin para ulama (para dai) saling berselisih?” Ia menjawab,” Mereka akan berselisih jika masuk pada kepentingan dunia.”
Karena itu, pengobatan hati harus lebih diprioritaskan dari pengobatan fisik. Hati adalah pangkal segala kebaikan dan keburukan. Dan obat hati yang paling mujarab hanya ada dalam satu kata ini: ikhlas.
Kedudukan Ikhlas
Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Al-An’am: 162). Surat Al-Bayyinah ayat 5 menyatakan, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” Rasulullah saw. bersabda, “Ikhlaslah dalam beragama; cukup bagimu amal yang sedikit.”
Tatkala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasul saw. berkata, “Engkau beribadah kepada Allah seolah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya.”
Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah surat Al-Mulk ayat 2 yang berbunyi, “Liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amala, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlasahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar). Katanya, “Sesungguhnya jika amal dilakukan dengan ikhlas tetapi tidak benar, maka tidak diterima. Dan jika amal itu benar tetapi tidak ikhlas, juga tidak diterima. Sehingga, amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah.” Pendapat Fudhail ini disandarkan pada firman Allah swt. di surat Al-Kahfi ayat 110.
Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”
Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”
Makna Ikhlas
Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.
Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharap ridha Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kotoran yang merusak.
Seseorang yang ikhlas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (nampi beras) dari kerikil-kerikil dan batu-batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor, ketika nasi dikunyah akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya, amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerah dan selalu kecewa.
Karena itu, ikhlas bagi seseorang adalah ketika ia mengarahkan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk Allah, mengharap ridha-Nya, dan kebaikan pahala-Nya tanpa melihat pada kekayaan dunia, tampilan, kedudukan, sebutan, kemajuan atau kemunduran. Dengan demikian ia menjadi tentara fikrah dan akidah, bukan tentara dunia dan kepentingan. Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” Seseorang yang berkarakter seperti itulah yang punya semboyan ‘Allahu Ghayaatunaa‘, Allah tujuan kami, dalam segala aktivitas mengisi hidupnya.
Buruknya Riya
Makna riya adalah seorang muslim memperlihatkan amalnya pada manusia dengan harapan mendapat posisi, kedudukan, pujian, dan segala bentuk keduniaan lainnya. Riya merupakan sifat atau ciri khas orang-orang munafik. Disebutkan dalam surat An-Nisaa ayat 142, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat itu) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
Riya juga merupakan salah satu cabang dari kemusyrikan. Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku takuti pada kalian adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apa itu syirik kecil, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. menjawab, “Riya. Allah berkata di hari kiamat ketika membalas amal-amal hamba-Nya, ‘Pergilah pada yang kamu berbuat riya di dunia dan perhatikanlah, apakah kamu mendapatkan balasannya?’” (HR Ahmad).
Dan orang yang berbuat riya pasti mendapat hukuman dari Allah swt. Orang-orang yang telah melakukan amal-amal terbaik, apakah itu mujahid, ustadz, dan orang yang senantiasa berinfak, semuanya diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas kepada Allah. Kata Rasulullah saw., “Siapa yang menuntut ilmu, dan tidak menuntutnya kecuali untuk mendapatkan perhiasan dunia, maka ia tidak akan mendapatkan wangi-wangi surga di hari akhir.” (HR Abu Dawud)
Ciri Orang Yang Ikhlas
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”
Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.
Al-Qur’an telah menjelaskan sifat orang-orang beriman yang ikhlas dan sifat orang-orang munafik, membuka kedok dan kebusukan orang-orang munafik dengan berbagai macam cirinya. Di antaranya disebutkan dalam surat At-Taubah ayat 44-45, “Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, tidak akan meminta izin kepadamu untuk (tidak ikut) berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. Sesungguhnya yang akan meminta izin kepadamu, hanyalah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, dan hati mereka ragu-ragu, karena itu mereka selalu bimbang dalam keragu-raguannya.”
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)
Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.
3. Dalam bermasyarakat , akan terlihat bahwa seorang yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya , sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.
Seseorang yang ikhlas akan menyadari kelemahan dan kekurangannya. Oleh karena itu mereka senantiasa membangun amal jama’i dalam masyarakatnya. Senantiasa menghidupkan syuro dan mengokohkan perangkat dan sistem dakwah. Berdakwah untuk kemuliaan Islam dan umat Islam, bukan untuk meraih popularitas dan membesarkan diri atau lembaganya semata.
Rabu, 18 Februari 2009
Mengobati Konflik Batin
Ketegangan dan ketakutan adalah sesuatu yang wajar. Justru ini adalah bagian dari karunia Allah, supaya kita tahu bahwa sebenarnya manusia sangat lemah dan sangat terbatas.
Yang perlu kita waspadai adalah jika ketegangan dan konflik itu terjadi berulang-ulang dan sering, meledak-ledak dan tidak terkendali. Apalagi bila tersimpan di hati dalam jangka yang lama. Bila sering kotor hati, sebaiknya perlu segera diobati.
Tindakan-tindakan positif berikut ini, semoga bisa membantu mengobatinya :
1.. Berbagi rasa.
Menceritakan masalah kepada orang lain misalnya ortu, sahabat karib, ustad dan orang-orang yang kita percayai, akan mengurangi beban ketegangan pikiran. Tentu saja bukan untuk menceritakan kejelekan orang lain maupun membuka aib sendiri, tetapi kita arahkan untuk mencari solusi.
2.. Menghindar sementara.
Bila masalahnya terasa begitu sulit diatasi dan sudah kita coba berulang-ulang ternyata belum terselesaikan juga, coba kita slow down sejenak. Ini bukan berarti kita meninggalkan masalah. Setelah agak tenang, kita coba untuk memetakan masalahnya dan mengumpulkan fakta-fakta sehingga kita bisa bertindak lebih rasional.
3.. Penyaluran emosi dengan positif.
Olah raga, berkebun, berlatih beladiri dan beberapa kegiatan lain, akan membantu kita dalam menyalurkan emosi. Kemarahan yang tidak terkendali, adalah tindakan konyol yang justru membuka aib-aib kita.
4.. Mengalah.
Mengalah adalah tindakan yang dewasa. Walaupun tindakan kita benar, kalau yang kita hadapi adalah orang yang tidak terkontrol, sebaiknya kita mengalah dahulu. Kata kuncinya adalah : kalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain.
5.. Membantu orang lain.
Keterlibatan emosi kita ketika membantu orang lain, menyenangkan mereka, meraba perasaan mereka, membuat hati kita lembut. Insya Allah kita bakal menjadi orang yang tidak banyak mengalami konflik.
6.. Mengerjakan tugas tiap bagian.
Bagi yang belum berpengalaman bekerja dengan simultan, sebaiknya pekerjaan dipilah-pilah, bagian-perbagian dan selesaikan satu persatu. Meskipun memakan waktu yang lebih panjang, namun potensi ketegangannya relatif lebih rendah.
7.. Jangan menganggap diri kita terlalu super.
Sikap tawadhu' adalah bagian penting dari sikap positif. Orang yang menganggap dirinya super, sering terjebak oleh standar yang terlalu tinggi, sedangkan kenyataannya belum tentu sehebat itu. Dan sebaiknya jangan menggunakan standar diri kita untuk menilai orang lain.
8.. Menerima kritik dengan lapang dada.
Kritikan adalah bagian dari karunia Allah. Coba bayangkan kalau nggak ada yang mengritik, mungkin kita nggak pernah tahu sisi negatif dan positif kita.
9.. Menjadikan orang lain pemenang.
Sebaiknya kita tidak menganggap bahwa semua hal dalam hidup ini adalah kompetisi-kompetisi yang harus selalu kita menangkan. Tidak ada salahnya kita memberi kemenangan kepada orang lain tanpa kita merasa kalah. Kesetimbangan, adalah sebuah prinsip yang patut kita kembangkan untuk mencapai kompetisi sama-sama menang.
10.. Rekreasi.
Menghilangkan kejenuhan adalah bagian dari cara menghindari kinflik dan ketegangan. Melihat pemandangan yang hijau, menikmati lembutnya pasir pantai, menghirup segarnya udara pagi sangat dianjurkan. Bahkan akan lebih bagus kalau terjadwal.
11.. Keyakinan.
Sikap yakin kita bahwa segala cobaan hidup itu datangnya dari Allah dan akan membuat kita lebih kuat, sangat penting untuk kita perhatikan. Dengan keyakinan ini, kita akan selalu menempatkan diri pada posisi positif walau apapun yang terjadi. Rumusnya adalah : Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Semoga bermanfaat.
Yang perlu kita waspadai adalah jika ketegangan dan konflik itu terjadi berulang-ulang dan sering, meledak-ledak dan tidak terkendali. Apalagi bila tersimpan di hati dalam jangka yang lama. Bila sering kotor hati, sebaiknya perlu segera diobati.
Tindakan-tindakan positif berikut ini, semoga bisa membantu mengobatinya :
1.. Berbagi rasa.
Menceritakan masalah kepada orang lain misalnya ortu, sahabat karib, ustad dan orang-orang yang kita percayai, akan mengurangi beban ketegangan pikiran. Tentu saja bukan untuk menceritakan kejelekan orang lain maupun membuka aib sendiri, tetapi kita arahkan untuk mencari solusi.
2.. Menghindar sementara.
Bila masalahnya terasa begitu sulit diatasi dan sudah kita coba berulang-ulang ternyata belum terselesaikan juga, coba kita slow down sejenak. Ini bukan berarti kita meninggalkan masalah. Setelah agak tenang, kita coba untuk memetakan masalahnya dan mengumpulkan fakta-fakta sehingga kita bisa bertindak lebih rasional.
3.. Penyaluran emosi dengan positif.
Olah raga, berkebun, berlatih beladiri dan beberapa kegiatan lain, akan membantu kita dalam menyalurkan emosi. Kemarahan yang tidak terkendali, adalah tindakan konyol yang justru membuka aib-aib kita.
4.. Mengalah.
Mengalah adalah tindakan yang dewasa. Walaupun tindakan kita benar, kalau yang kita hadapi adalah orang yang tidak terkontrol, sebaiknya kita mengalah dahulu. Kata kuncinya adalah : kalahkan diri sendiri sebelum mengalahkan orang lain.
5.. Membantu orang lain.
Keterlibatan emosi kita ketika membantu orang lain, menyenangkan mereka, meraba perasaan mereka, membuat hati kita lembut. Insya Allah kita bakal menjadi orang yang tidak banyak mengalami konflik.
6.. Mengerjakan tugas tiap bagian.
Bagi yang belum berpengalaman bekerja dengan simultan, sebaiknya pekerjaan dipilah-pilah, bagian-perbagian dan selesaikan satu persatu. Meskipun memakan waktu yang lebih panjang, namun potensi ketegangannya relatif lebih rendah.
7.. Jangan menganggap diri kita terlalu super.
Sikap tawadhu' adalah bagian penting dari sikap positif. Orang yang menganggap dirinya super, sering terjebak oleh standar yang terlalu tinggi, sedangkan kenyataannya belum tentu sehebat itu. Dan sebaiknya jangan menggunakan standar diri kita untuk menilai orang lain.
8.. Menerima kritik dengan lapang dada.
Kritikan adalah bagian dari karunia Allah. Coba bayangkan kalau nggak ada yang mengritik, mungkin kita nggak pernah tahu sisi negatif dan positif kita.
9.. Menjadikan orang lain pemenang.
Sebaiknya kita tidak menganggap bahwa semua hal dalam hidup ini adalah kompetisi-kompetisi yang harus selalu kita menangkan. Tidak ada salahnya kita memberi kemenangan kepada orang lain tanpa kita merasa kalah. Kesetimbangan, adalah sebuah prinsip yang patut kita kembangkan untuk mencapai kompetisi sama-sama menang.
10.. Rekreasi.
Menghilangkan kejenuhan adalah bagian dari cara menghindari kinflik dan ketegangan. Melihat pemandangan yang hijau, menikmati lembutnya pasir pantai, menghirup segarnya udara pagi sangat dianjurkan. Bahkan akan lebih bagus kalau terjadwal.
11.. Keyakinan.
Sikap yakin kita bahwa segala cobaan hidup itu datangnya dari Allah dan akan membuat kita lebih kuat, sangat penting untuk kita perhatikan. Dengan keyakinan ini, kita akan selalu menempatkan diri pada posisi positif walau apapun yang terjadi. Rumusnya adalah : Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hambanya.
Semoga bermanfaat.
Rabu, 11 Februari 2009
Perumpamaan dalam al Qur’an ( surat al- Baqarah )
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. ( al-Baqarah : 17 )
( maksudnya ; Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )
(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265 )
( maksudnya ; Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )
(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265 )
Perumpamaan dalam al Qur’an ( surat al- Baqarah )
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. ( al-Baqarah : 17 )
( maksudnya ; Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )
(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265 )
( maksudnya ; Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )
(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )
Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265 )
Perumpamaan dalam al Qur’an ( surat al- Baqarah )
Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api.Maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. ( al-Baqarah : 17 )( maksudnya ; Orang-orang munafik itu tidak dapat mengambil manfaat dari petunjuk-petunjuk yang datang dari Allah, karena sifat-sifat kemunafikkan yang bersemi dalam dada mereka. Keadaan mereka digambarkan Allah seperti dalam ayat tersebut di atas.)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah seperti penggembala yang memanggil binatang yang tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja. mereka tuli, bisu dan buta, Maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti.( al- Baqarah : 171 )(maksudnya ; Dalam ayat ini orang kafir disamakan dengan binatang yang tidak mengerti arti panggilan penggembalanya.)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.( al- Baqarah : 214 )Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah[166] adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui.( al- Baqarah : 261 )
( Maksudnya : Pengertian menafkahkan harta di jalan Allah meliputi belanja untuk kepentingan jihad, pembangunan perguruan, rumah sakit, usaha penyelidikan ilmiah dan lain-lain.)
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan Dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah Dia bersih (tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir( al- Baqarah : 264)
( Maksudnya : Mereka ini tidak mendapat manfaat di dunia dari usaha-usaha mereka dan tidak pula mendapat pahala di akhirat.)
Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran Tinggi yang disiram oleh hujan lebat, Maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. jika hujan lebat tidak menyiraminya, Maka hujan gerimis (pun memadai). dan Allah Maha melihat apa yang kamu perbuat.( al- Baqarah : 265
PERUMPAMAAN ORANG YANG BERILMU
Perumpamaan orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmunya serta tidak mengajarkan kepada orang lain seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah dengan harta yang melimpah , dan menyimpannya dibawah tanah. Maka harta tersebut tidak memberi manfaat kepada dirinya sendiri , juga kepada orang lain . dan juga dia tidak bisa memanfaatkan hartanya tadi , lebih – lebih orang lain, sehingga harta tersebut menjadi bencana kepada yang empunya.
Perumpamaan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya akan tetapi tidak mengajarkan kepada orang lain , seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah dengan harta yang banyak , sehingga dia bisa menikmatinya sepanjang siang dan malam hari , akan tetapi dia tidak berbelas kasihan kepada teapi , kerabat dan juga kepada kaum muslimin
Perumpamaan orang yang berilmu dan tidak mengamalkannya akan tetapi mengajarkannya kepada orang lain , seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah dengan harta yang banyak , maka setiap orang mengambilnya atau mencurinya , akan tetapi dia tidak memperhatikannya , dan harta tersebut tidak menafkahi kepada dirinya sendiri dan juga anggota keluarganya, sehingga anggota keluarganya mati dalam keadaan kelaparan dan telanjang, dan si empunya harta tersebut juga dalam kesengsaraan di tempat makan dan tempat minum , dan tidak mampu untuk untuk makan sedikitpun darinya untuk dirinay sendiri, atau memberi nafkah kepada keluarganya , sehingga dia menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat.
Dan juga perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya akan tetapi mengajarkan kepada orang lain untuk berbangga – bangga dan kecongkakan dan kesombongan keduniaan , seperti sebuah lampu yang menyinari kepada orang banyak akan tetapi membakar dirinya sendiri. Dan juga seperti orang yang menaruh lampu diatas permukaan , sehingga para pejalan bisa memanfaatkannya sedangkan dia didalam rumah yang gelap gulita tidak bisa memanfaatkannya , padahal dia sangat membutuhkannya
Dan perumpamaan orang yang menuntut ilmu yang banyak dan mengumpulkannya , dan tidak mengamalkannya , dan juga terlihat pengaruh ilmunya atas dirinya , sementara dia terus menerus menuntut ilmu dan mengumpulkan buku , dan juga tidak pernah puas dalam menuntut ilmu , seperti orang yang setiap hari dan setiap jam mengumpulkan berbagai macam makanan dan buah – buahan , dan berbagai macam minuman yang cepat rusak , sehingga dia tidak bisa makan darinya sedangkan dia dalam keadaan lapar dan haus yang sangat. Maka setiap hari sebenarnya dia hanya bisa makan segumpal atau sekepal makanan yang sudah kering dan busuk, sehingga dia hanya bisa melihat warna warni makanan yang tidak bisa menyenangkan dirinya , dan juga tidak menjadikan orang yang mengumpulkannya kenyang setiap hari sampai kematian menjemputnya , dan semua barangnya rusak , terus dibuang ,dan tidak akan ada seorangpun yang memakannya.
Perumpamaan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya akan tetapi tidak mengajarkan kepada orang lain , seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah dengan harta yang banyak , sehingga dia bisa menikmatinya sepanjang siang dan malam hari , akan tetapi dia tidak berbelas kasihan kepada teapi , kerabat dan juga kepada kaum muslimin
Perumpamaan orang yang berilmu dan tidak mengamalkannya akan tetapi mengajarkannya kepada orang lain , seperti seseorang yang diberi rizki oleh Allah dengan harta yang banyak , maka setiap orang mengambilnya atau mencurinya , akan tetapi dia tidak memperhatikannya , dan harta tersebut tidak menafkahi kepada dirinya sendiri dan juga anggota keluarganya, sehingga anggota keluarganya mati dalam keadaan kelaparan dan telanjang, dan si empunya harta tersebut juga dalam kesengsaraan di tempat makan dan tempat minum , dan tidak mampu untuk untuk makan sedikitpun darinya untuk dirinay sendiri, atau memberi nafkah kepada keluarganya , sehingga dia menjadi orang yang merugi di dunia dan akhirat.
Dan juga perumpamaan orang yang berilmu tetapi tidak mengamalkan ilmunya akan tetapi mengajarkan kepada orang lain untuk berbangga – bangga dan kecongkakan dan kesombongan keduniaan , seperti sebuah lampu yang menyinari kepada orang banyak akan tetapi membakar dirinya sendiri. Dan juga seperti orang yang menaruh lampu diatas permukaan , sehingga para pejalan bisa memanfaatkannya sedangkan dia didalam rumah yang gelap gulita tidak bisa memanfaatkannya , padahal dia sangat membutuhkannya
Dan perumpamaan orang yang menuntut ilmu yang banyak dan mengumpulkannya , dan tidak mengamalkannya , dan juga terlihat pengaruh ilmunya atas dirinya , sementara dia terus menerus menuntut ilmu dan mengumpulkan buku , dan juga tidak pernah puas dalam menuntut ilmu , seperti orang yang setiap hari dan setiap jam mengumpulkan berbagai macam makanan dan buah – buahan , dan berbagai macam minuman yang cepat rusak , sehingga dia tidak bisa makan darinya sedangkan dia dalam keadaan lapar dan haus yang sangat. Maka setiap hari sebenarnya dia hanya bisa makan segumpal atau sekepal makanan yang sudah kering dan busuk, sehingga dia hanya bisa melihat warna warni makanan yang tidak bisa menyenangkan dirinya , dan juga tidak menjadikan orang yang mengumpulkannya kenyang setiap hari sampai kematian menjemputnya , dan semua barangnya rusak , terus dibuang ,dan tidak akan ada seorangpun yang memakannya.
Senin, 09 Februari 2009
DEMOKRASI ALA SANTRI
Bangsa Indonesia sekarang ini sedang menghadapi masa penantian pelaksanaan Pesta demokrasi yang terbesar di negeri ini.
Pesta ini melibatkan lebih kurang duaratus juta penduduk Indonesia , sebuah jumlah yang tidak sedikit dan juga tidak mudah untuk mengaturnya, disamping melibatkan beberapa partai peserta pemilu , ada yang pemain lama dan adapula yang pemain baru , sebut saja misalnya ; partai Hanura , dengan Wiranto nya , Partai Gerindra dengan Prabowo nya dan masih banyak lagi partai = partai yang saya bingung menyebutnya.
Ada banyak alasan kenapa orang beramai - ramai mendirikan partai ,ada yang mengatakan; tidak puas dengan kinerja pemerintahan yang sedang berlaku , ada juga yang mengatakan' untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun , ada pula yang mengatakan ingin mengajari masyarakat " bahwa berpartai itu juga tetap bisa berlaku jujur , dan tidak harus berlaku curang , dan masih banyak alasan lain , mungkin mencari duit , karena dengan berpartai itu akan dapat kucuran dana dari pemerintah , dan sebagainya.
Berkenaan dengan berpartai , pada malam senin , tepatnya tanggal 8 Februari 2009 , santri Darunnajah juga tengah mengadakan pesta demokrasi , yang juga saya menyebutnya dengan " demokrasi terpimpin " sebab dalam pelaksanaan , para santri tidak kita lepaskan seratus persen, akan tetapi masih ada campur tangan fihak pengasuh dalam hal menentukan siapa yang akan menjadi ketua OSDN , setelah melalui tahapan mencari the big ten , dan the big five.
jadi , setelah dipilih siapa yang layak masuk lima besar , maka pengasuh dan majelis guru yang memilih siapa yang akan menjadi ketua OSDN ( Organisasi Santri Darunnajah ). Hal ini dilakukan untuk menjaga , agar oknum anak yang tidak ingin kebaikan , bisa dihindari .
Maksud oknum yang tidak baik ini adalah , ada beberapa anak yang tidak menginginkan organisasi berjalan dengan baik , tanpa disiplin dan sebagainya.
Jika kita lihat , maka ada sepanduk yang menggambarkan Visi dan Misi mereka , jika mereka menjadi ketua OSDN , yang lengkap dengan foto dalam ukuran besar.
Wah Wah wah , ini sudah kaya pemilihan Presiden tingkat nasional saja , sebab ada Fit and Proper tes juga , yang menjadi panelisnya adalah dewan guru.
Saya cuma bisa berdoa , ketika menyaksikan acara tersebut , semoga anak - anak ini bisa mewarnai bangsa ini untuk menjadi bangsa yang lebih baik dan menjadi bangsa yang besar dimasa mendatang.
Yang juga menjadi acuan dalam mpemilihan ini adalah bahwa para candidate tersebut harus punya sifat , sidiq , amanah , tabligh dan fatonah.
Bravo OSDN , bravo anak - anak , moga jalanmu lurus di masa mendatang
Pesta ini melibatkan lebih kurang duaratus juta penduduk Indonesia , sebuah jumlah yang tidak sedikit dan juga tidak mudah untuk mengaturnya, disamping melibatkan beberapa partai peserta pemilu , ada yang pemain lama dan adapula yang pemain baru , sebut saja misalnya ; partai Hanura , dengan Wiranto nya , Partai Gerindra dengan Prabowo nya dan masih banyak lagi partai = partai yang saya bingung menyebutnya.
Ada banyak alasan kenapa orang beramai - ramai mendirikan partai ,ada yang mengatakan; tidak puas dengan kinerja pemerintahan yang sedang berlaku , ada juga yang mengatakan' untuk menyampaikan aspirasi dengan cara yang santun , ada pula yang mengatakan ingin mengajari masyarakat " bahwa berpartai itu juga tetap bisa berlaku jujur , dan tidak harus berlaku curang , dan masih banyak alasan lain , mungkin mencari duit , karena dengan berpartai itu akan dapat kucuran dana dari pemerintah , dan sebagainya.
Berkenaan dengan berpartai , pada malam senin , tepatnya tanggal 8 Februari 2009 , santri Darunnajah juga tengah mengadakan pesta demokrasi , yang juga saya menyebutnya dengan " demokrasi terpimpin " sebab dalam pelaksanaan , para santri tidak kita lepaskan seratus persen, akan tetapi masih ada campur tangan fihak pengasuh dalam hal menentukan siapa yang akan menjadi ketua OSDN , setelah melalui tahapan mencari the big ten , dan the big five.
jadi , setelah dipilih siapa yang layak masuk lima besar , maka pengasuh dan majelis guru yang memilih siapa yang akan menjadi ketua OSDN ( Organisasi Santri Darunnajah ). Hal ini dilakukan untuk menjaga , agar oknum anak yang tidak ingin kebaikan , bisa dihindari .
Maksud oknum yang tidak baik ini adalah , ada beberapa anak yang tidak menginginkan organisasi berjalan dengan baik , tanpa disiplin dan sebagainya.
Jika kita lihat , maka ada sepanduk yang menggambarkan Visi dan Misi mereka , jika mereka menjadi ketua OSDN , yang lengkap dengan foto dalam ukuran besar.
Wah Wah wah , ini sudah kaya pemilihan Presiden tingkat nasional saja , sebab ada Fit and Proper tes juga , yang menjadi panelisnya adalah dewan guru.
Saya cuma bisa berdoa , ketika menyaksikan acara tersebut , semoga anak - anak ini bisa mewarnai bangsa ini untuk menjadi bangsa yang lebih baik dan menjadi bangsa yang besar dimasa mendatang.
Yang juga menjadi acuan dalam mpemilihan ini adalah bahwa para candidate tersebut harus punya sifat , sidiq , amanah , tabligh dan fatonah.
Bravo OSDN , bravo anak - anak , moga jalanmu lurus di masa mendatang
Sabtu, 31 Januari 2009
orang hebat ?
beberapa hari yang lalu ada sebuah kejadian. kejadian ini antara seorang anak muda dengan anak yang lebih sedikit lebih tua dari pemuda tadi . sebab umur antara mereka hanya terpaut beberapa tahun saja, mungkin hanya 3 atau 4 tahun saja
kejadiaanya adalah sebagai berikut , anak muda tadi duduk di suatu tempat , dan serasa cara duduk pemuda tad kurang memenuhi standar etika sosial. kenapa dikatakan tidak sesuai dengan etika sosial ? sebab anak muda tadi duduk dengan kaki diatas kursi yang menurut etika masyarakat , maka cara duduk yang seperti itu kurang berkenan di masyarakat . maka pemuda yang merasa lebih tua umurnya tadi mengingatkan nya agar duduk lebih sopan. tapi yang terjadi adalah anak muda tadi tidak menggubris sama sekali , dan bahkan menantang yang lebih tua tadi untuk duel.
merasa di remehkan , maka pemuda yang lebih tua tadi juga tidak tinggal diam , dia malah balik juga menantang untuk duel.
si anak muda tadi berani menantang , karena merasa memang secara fisik , dia lebih besar dan lebih kuat , sedangkan pemuda yang merasa lebih tua tadi , memang secara fisik bukan tandingannya, tapi dia punya nyali lebih, itu saja modal yang dia punya, sebab , kuat , tidak , besar badan , juga tidak , maka sebenarnya secara modal , dia bukan apa apa < yang dia punya hanyalah hadis Rasul yang berbunyi sebagai berikut
ليس الضديد بالصرعة إنما الشديد الذى يملق نفسه عند الغضب
jadi , jika menarik kesimpulan , maka yang sebenarnya orang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya ketika dia sedang dalam keadaan marah.
kenapa demikian , sebab , memamng kemarahan adalah sumber malapetaka yang bisa menyebabkan kehancuran. dan juga , kadang - kadang kemarahan itu bersumber dari rasa kebencian terhadap seseorang tertentu.
أول الغضب جنون و آخره ندم
maka , jauhilah akan sifat - sifat yang menyebabkan marah dan kemarahannya itu sendiri. dan jika ingin marah , maka marah karena ALLAH , dan bukan karena hawa nafsu.
و الله أعلم بالصواب
و السلام
kejadiaanya adalah sebagai berikut , anak muda tadi duduk di suatu tempat , dan serasa cara duduk pemuda tad kurang memenuhi standar etika sosial. kenapa dikatakan tidak sesuai dengan etika sosial ? sebab anak muda tadi duduk dengan kaki diatas kursi yang menurut etika masyarakat , maka cara duduk yang seperti itu kurang berkenan di masyarakat . maka pemuda yang merasa lebih tua umurnya tadi mengingatkan nya agar duduk lebih sopan. tapi yang terjadi adalah anak muda tadi tidak menggubris sama sekali , dan bahkan menantang yang lebih tua tadi untuk duel.
merasa di remehkan , maka pemuda yang lebih tua tadi juga tidak tinggal diam , dia malah balik juga menantang untuk duel.
si anak muda tadi berani menantang , karena merasa memang secara fisik , dia lebih besar dan lebih kuat , sedangkan pemuda yang merasa lebih tua tadi , memang secara fisik bukan tandingannya, tapi dia punya nyali lebih, itu saja modal yang dia punya, sebab , kuat , tidak , besar badan , juga tidak , maka sebenarnya secara modal , dia bukan apa apa < yang dia punya hanyalah hadis Rasul yang berbunyi sebagai berikut
ليس الضديد بالصرعة إنما الشديد الذى يملق نفسه عند الغضب
jadi , jika menarik kesimpulan , maka yang sebenarnya orang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan nafsunya ketika dia sedang dalam keadaan marah.
kenapa demikian , sebab , memamng kemarahan adalah sumber malapetaka yang bisa menyebabkan kehancuran. dan juga , kadang - kadang kemarahan itu bersumber dari rasa kebencian terhadap seseorang tertentu.
أول الغضب جنون و آخره ندم
maka , jauhilah akan sifat - sifat yang menyebabkan marah dan kemarahannya itu sendiri. dan jika ingin marah , maka marah karena ALLAH , dan bukan karena hawa nafsu.
و الله أعلم بالصواب
و السلام
Sabtu, 24 Januari 2009
Langganan:
Postingan (Atom)