Malam itu , tepatnya habis melaksanakan sholat maghrib , kami membaca al- Qur'an di rumah dengan anak dan istri saya . setelah membaca al- Qur'an selesai , maka kami makan malam dengan lauk pauk yang telah disediakan oleh ibu nya anak - anak.
di sela - sela makan , kami biasanya membujuk si bungsu "Obi" ( Robby Muntaha Al- Musthofa ) untuk ikut makan malam, karena si bungsu satu ini memang agak sulit kalau diajak makan. tapi malam itu dengan kelihaian ibunya , si bungsu akhirnya mau makan juga , walau hanya beberapa suap.
Makan malam selesai, maka anak - anak harus belajar untuk mempersiapkan belajar esok hari. dengan nada lembut , ibunya anak - anak membujuk Obi untuk belajar " Mas Obi..... , sekarang belajar untuk mengerjakan PR nya , soalnya , besok PR nya harus di kumpulkan ke BU Sri" , mendengar ucapan ibunya , si bungsu memperlihatkan perubahan mimik muka yang kurang sedap, hal itu tampak dari kerut di keningnya yang biasa diperlihatkan , yaitu dengan mendekatkan kedua alis matanya. dengan gerakkan terpaksa sambil beranjak dari tempat duduknya si bungsu mengambil buku dan membuka halaman yang ada PR nya .
Ibunya terus membimbing satu - demi satu nomor - nomor yang harus dikerjakan oleh si Bungsu. tetapi di tengah - tengah mengerjakan PR , dengan entengnya dia berkomentar " jangan salahin Obi kalo besok bangun terlambat , karena di ajak belajar sampai malam " Ibunya menyadari bahwa Bungsu ini gak betah belajar dan suka main , maka dengan alasan tadi , dia berucap kata - kata tadi , agar bisa cepat main. menanggapi ucapan itu , ibunya kaget dan sambil tertawa dalam hati san berkata lirih " wong di ajari belajar kok negomongnya begitu , gek siapaaaa yang ngajari itu "
Benar saja , setelah belajar selesai , bungsu bukan tidur atau istirahat , eeee malah nyari - nyari CD film Hery Potter dan kawan - kawannya itu.
Ya Allah , kepadaMu aku berserah dalam mendidik anak - anak yang Engkau amanatkan kepada kami, karena dengan Kuasa Mu kami menjadi kuat dan tabah serta dalam jaln Mu. amin
Rabu, 29 September 2010
Selasa, 08 Juni 2010
Humor Santri ( Innamaa ju'ilal Imaamu liyu'tamma )
Kentus adalah santri di suatu pondok pesantren.
seperti biasa , kehidupan pesantren itu tidak lepas dari kehidupan sholat berjamaah. Sholat berjamaah lima waktu , yang harus dijalani oleh setiap santri , sebab dalam ajaran Islam , pahala sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lipat , sehingga menjadi eman - eman jika tidak melaksanakan sholat berjamaah.
Ketika santri - santri yang lain sedang khusyu' melaksanakan sholat berjamaah yang di Imami oleh Kyai Bashirun , Kenthus dengan enaknya duduk santai di dapur untuk menghabiskan nasi yang sudah kadung di di tuangkan dalam piring dan sudah di beri sayur , dan kalo di tinggal , maka akan hilang selera makannya. ,malamua tanpa menghiraukan pahala 27 derajat , denga lahap menyantap nasi dalam piring tersebut samapi ludes.
Sehabis makan , Kenthus bergegas menuju masjid untuk mengikuti shlat jama'ah dengan yang lain - lain ,walaupun tinggal 2 rakaat terakhir saja , Kenthus tetap khusyu' menunaikan shalat tersebut, samapi terakhir salam.
Ketika Imam mengucapkan salam , maka para jama'ah juga mengikuti Imam mengucapkan salam , termasuk Kenthus.
Teman Kenthus yang duduk di sampingnya , serta merta bertanya dan mengingatkan Kenthus , ; Kenthus , kok kamu sudah salam , bukan kah kamu tadi salatnya Masbuk , tertinggal dua rakaat; begitu tegurnya, terus temannya melanjutkan tegurannya ; kamu harus menambah dua rakaat lagi , biar shalat 'isya'mua sempurna" dengan enteng Kenthus menjawab teguran temannya tadi ;" kenapa saya harus shalat lagi dan menambah 2 rakaat lagi ? bukan kah sudah ada Imam yang menyempurnakan shalat para ma'mum ? kalo menambah shalat lagi , itu akan menyalahi hadits yang berbunyi " Innamaa ju'ilal Imaamu liyu'tamma ,.
mendengar jawaban yang seprti itu , maka teman Kenthus menggerutu dalam hati dan mengatakan kepada dirinya sendiri " dasar Kenthus , santri keblinger , moga - moga dapat petunjuk dan tidak ketahuan sama Kyai , solanya kalo ketahuan Kyai. maka resikonya adalah di usir dari pesantren.
Wa Allahu a'lam bisshawab.
seperti biasa , kehidupan pesantren itu tidak lepas dari kehidupan sholat berjamaah. Sholat berjamaah lima waktu , yang harus dijalani oleh setiap santri , sebab dalam ajaran Islam , pahala sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lipat , sehingga menjadi eman - eman jika tidak melaksanakan sholat berjamaah.
Ketika santri - santri yang lain sedang khusyu' melaksanakan sholat berjamaah yang di Imami oleh Kyai Bashirun , Kenthus dengan enaknya duduk santai di dapur untuk menghabiskan nasi yang sudah kadung di di tuangkan dalam piring dan sudah di beri sayur , dan kalo di tinggal , maka akan hilang selera makannya. ,malamua tanpa menghiraukan pahala 27 derajat , denga lahap menyantap nasi dalam piring tersebut samapi ludes.
Sehabis makan , Kenthus bergegas menuju masjid untuk mengikuti shlat jama'ah dengan yang lain - lain ,walaupun tinggal 2 rakaat terakhir saja , Kenthus tetap khusyu' menunaikan shalat tersebut, samapi terakhir salam.
Ketika Imam mengucapkan salam , maka para jama'ah juga mengikuti Imam mengucapkan salam , termasuk Kenthus.
Teman Kenthus yang duduk di sampingnya , serta merta bertanya dan mengingatkan Kenthus , ; Kenthus , kok kamu sudah salam , bukan kah kamu tadi salatnya Masbuk , tertinggal dua rakaat; begitu tegurnya, terus temannya melanjutkan tegurannya ; kamu harus menambah dua rakaat lagi , biar shalat 'isya'mua sempurna" dengan enteng Kenthus menjawab teguran temannya tadi ;" kenapa saya harus shalat lagi dan menambah 2 rakaat lagi ? bukan kah sudah ada Imam yang menyempurnakan shalat para ma'mum ? kalo menambah shalat lagi , itu akan menyalahi hadits yang berbunyi " Innamaa ju'ilal Imaamu liyu'tamma ,.
mendengar jawaban yang seprti itu , maka teman Kenthus menggerutu dalam hati dan mengatakan kepada dirinya sendiri " dasar Kenthus , santri keblinger , moga - moga dapat petunjuk dan tidak ketahuan sama Kyai , solanya kalo ketahuan Kyai. maka resikonya adalah di usir dari pesantren.
Wa Allahu a'lam bisshawab.
Rabu, 19 Mei 2010
Balada haulah
Dia adalah gadis desa yang berada di daerah CIrebon. di desa tersebut Haula hanya menamatkan sekolah SMP.
sampai tamat SMP juga sudah lumayan , sebab mengingat bapak nya sudah tidak ada atau sudah meninggal dunia. setelah tamat SMP , dia ingin mengikuti jejak kakaknya yang sudah lebih dulu pergi ke jakarta, di sebuah Pesantren yang cukup ternama .
Di Pesantren tersebut , kakaknya kerja dan sambil kuliah , sebab bagi kakaknya , pendidikan adalah satu - satunya cara untuk keluar dari masalah yang selama ini di alaminya.
kabar tentang sekolahnya kakak Haulah terdengar sampai ke telinga Haulah, maka dengan modal nekad , dan berbekal Ijazah yang dimilikinya , Haulah merantau ke Jakarta dengan satu tujuan mengikuti jejak kakaknya, dan tujuannya adalah pesantren tersebut.
Di Pesantren tersebut , Haulah di pekerjakan di Kantin SD, tapi lama - kelamaan di tidak betah di kantin SD, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Pesantren dan ingin pergi ke Arab Saudi .
Sesampai di rumah , Ibunya tidak mengizinkan nya untuk pergi ke Arab. dan dengan hati yang hancur dan kecewa , akhirnya Haulah kembali bekerja di Pesantren dimana dia pernah bekerja sebelumnya.
Pada yang kedua kali ini , Haulah di pekerjakan di Dapur umum, yang harus melayani makan santri selama tiga kali sehari semalam. memang bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.
karena ingin mendapatkan pendapatan yang lebih , maka di sela-sela waktu luang di dapur , dia bekerja sampingan di rumah salah seorang guru di pesantren tersebut , yaitu menyetrika baju . lumayan , dengan menyetrika dia bisa dapat tambahan kira - kira RP. 150.000,- tiap bulan. tambahan tersebut cukup memberi semangat dia untuk melanjutkan sekolah di paket C di wilayah Bintaro.
Pada hari - hari pertama sekolah , Dia sangat bahagia menikmati sekolah paket tersebut, sebab , disamping untuk sekolah formal di tidak sanggup membiayai , apalagi orang tuanya, pada saat ini dia membiayai sekolah dengan uang nya sendiri.
Tapi , ditengah - tengah kebahagiaannya tersebut , ada sebuah berita yang bagaikan petir menyambar dirinya , yaitu : dia di pecat atau di keluarkan dari Pesantren tersebut secara sepihak , dengan tanpa mengetahui penyebabnya.
sungguh sebuah ironi , Pesantren , lembaga yang nota bene nya lembaga keagamaan , tapi dalam bertindak , kayaknya jauh dari sifat keagamaan.
Maka , datanglah Haulah ke rumah guru pesantren tersebut untuk menumpahkan tangis yang beberapa saat yang lalu di bendungnya, di keluarkan semua unek - unek yang ada dalam hatinya, muali dari kebingungannya , rasa malu kepada siapun yang di temuinya di pesantren , seolah - olah dia sudah berbuat kriminal di dalam peantren , samapi keluahan bahwa dia hanyalah orang kecil tak punya jabatan , sehingga diapun pasrah dan ikhlas dengan keputusan ini , tapi yang masih mengganjal dalam hatinya adalah bahwa dia tidak tahu akann kesalahannya yang menyebabkan di di keluarkan dari pesantren dan tidak boleh bekerja lagi di pesantren terbut.
Tapi , alhamdulillah, sekarang dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi dengan membantu di rumah salah seorang teman guru juga , akan tetapi dia sekarang tinggal di luar pesantren.
semoga perjuangannya di ridhoi oleh Allah.
Kau wanita yang gagah Haulah
Inna Ma'al 'Ushri Yusra
sampai tamat SMP juga sudah lumayan , sebab mengingat bapak nya sudah tidak ada atau sudah meninggal dunia. setelah tamat SMP , dia ingin mengikuti jejak kakaknya yang sudah lebih dulu pergi ke jakarta, di sebuah Pesantren yang cukup ternama .
Di Pesantren tersebut , kakaknya kerja dan sambil kuliah , sebab bagi kakaknya , pendidikan adalah satu - satunya cara untuk keluar dari masalah yang selama ini di alaminya.
kabar tentang sekolahnya kakak Haulah terdengar sampai ke telinga Haulah, maka dengan modal nekad , dan berbekal Ijazah yang dimilikinya , Haulah merantau ke Jakarta dengan satu tujuan mengikuti jejak kakaknya, dan tujuannya adalah pesantren tersebut.
Di Pesantren tersebut , Haulah di pekerjakan di Kantin SD, tapi lama - kelamaan di tidak betah di kantin SD, akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari Pesantren dan ingin pergi ke Arab Saudi .
Sesampai di rumah , Ibunya tidak mengizinkan nya untuk pergi ke Arab. dan dengan hati yang hancur dan kecewa , akhirnya Haulah kembali bekerja di Pesantren dimana dia pernah bekerja sebelumnya.
Pada yang kedua kali ini , Haulah di pekerjakan di Dapur umum, yang harus melayani makan santri selama tiga kali sehari semalam. memang bukanlah suatu pekerjaan yang ringan.
karena ingin mendapatkan pendapatan yang lebih , maka di sela-sela waktu luang di dapur , dia bekerja sampingan di rumah salah seorang guru di pesantren tersebut , yaitu menyetrika baju . lumayan , dengan menyetrika dia bisa dapat tambahan kira - kira RP. 150.000,- tiap bulan. tambahan tersebut cukup memberi semangat dia untuk melanjutkan sekolah di paket C di wilayah Bintaro.
Pada hari - hari pertama sekolah , Dia sangat bahagia menikmati sekolah paket tersebut, sebab , disamping untuk sekolah formal di tidak sanggup membiayai , apalagi orang tuanya, pada saat ini dia membiayai sekolah dengan uang nya sendiri.
Tapi , ditengah - tengah kebahagiaannya tersebut , ada sebuah berita yang bagaikan petir menyambar dirinya , yaitu : dia di pecat atau di keluarkan dari Pesantren tersebut secara sepihak , dengan tanpa mengetahui penyebabnya.
sungguh sebuah ironi , Pesantren , lembaga yang nota bene nya lembaga keagamaan , tapi dalam bertindak , kayaknya jauh dari sifat keagamaan.
Maka , datanglah Haulah ke rumah guru pesantren tersebut untuk menumpahkan tangis yang beberapa saat yang lalu di bendungnya, di keluarkan semua unek - unek yang ada dalam hatinya, muali dari kebingungannya , rasa malu kepada siapun yang di temuinya di pesantren , seolah - olah dia sudah berbuat kriminal di dalam peantren , samapi keluahan bahwa dia hanyalah orang kecil tak punya jabatan , sehingga diapun pasrah dan ikhlas dengan keputusan ini , tapi yang masih mengganjal dalam hatinya adalah bahwa dia tidak tahu akann kesalahannya yang menyebabkan di di keluarkan dari pesantren dan tidak boleh bekerja lagi di pesantren terbut.
Tapi , alhamdulillah, sekarang dia sudah mendapatkan pekerjaan lagi dengan membantu di rumah salah seorang teman guru juga , akan tetapi dia sekarang tinggal di luar pesantren.
semoga perjuangannya di ridhoi oleh Allah.
Kau wanita yang gagah Haulah
Inna Ma'al 'Ushri Yusra
Kamis, 08 April 2010
INDONESIAKU
saat ini , hampir seluuruh rakyat sa antero Indonesia sedang demam untuk mendengarkan dan menyimak berita tentang kasusnya Gayus Tambunan. kasus ini sangat menarik perhatian bagi banyak orang , sebab kasus ini mengusik rasa keadilan dan nurani. sebab kasus ini adalah kasus , dimana uang pajak yang seharusnya untuk membangun negara dan demi kesejahteraan rakyat , malah di kemplang oleh segelintir orang. bayangkan , seorang PNS golongan IIIA yang baru kerja selama 5 tahun , sudah memiliki kekayaan yang sangat besar , 28 milyar. sayapun juga belum tahu jumlahnya samapi seberapa banyak. tapi yang jelas , kejadian itu adalah kejadian yang menyakitkan dan merusak tatanan moral para pembayar pajak.
kasihan Indonesiaku ini.
kasihan Indonesiaku ini.
Minggu, 17 Januari 2010
AAAAHHHHH
hari - hariku sekarang di isi dengan kesibukan untuk mengurus anak - anak didik . setiap saat , setiap detik dan begitu seterusnya.
hari - hari ini selalu begitu . kadang aku berseloroh dalam hati , mengasuh anak - anak santri seolah - olah menjadi Istri kedua saya, sedangkan Istri pertama saya yaitu ibunya anak - anak di rumah.
Ibu nya anak - anak saya dan keluarga saya kadang kurang terperhatikan karena kesibukan saya. kedengarannya memang kurang adil , anak - anak saya yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh dari saya , kadang harus berbagi dengan kesibukan saya. yang akdang menjadikan saya kasihan adalah ketika saya pulang ke rumah anak - anak dan Istri sudah tertidur pulas. Akhirnya , saya hanya bisa memandangi raut wajah ikhlas dari sosok istri yang selalu menemani ku dan sosok wajah imut lagi lucu dari anak nomor duaku , yaitu Robby Muntaha al- Musthofa, sebab anak pertama saya, yaitu Muhammad Abduh Al- Mustofa sudah masuk asrama ( pesantren ) , sehingga hanya beberpa kali saja tiap harinya ketemu , walaupun saya juga berada di pondok pesantren yang sama dengan anak saya.
Ketika saya keluar rumah , kebetulan rumah saya ada di lingkungan pesantren , maka yang terlintas dalam pikiran adalah bagaimana memperbaiki kekurangan yang ada pada pesantren atau pada santri - santri kami.
ada di antara mereka yang mudah di ingatkan , ada yang cukup dengan pandangan dan berubah , tapi ada yang harus berkali kali hanya untuk merubah sikap dari tidak memakai peci ke memakai pecei setiap menjalankan sholat berjamaah di masjid. ada yang cengeng , ada yang tegar , ada yang masa bodoh dengan keadaan , dan ada yang selalu mengiba minta di beri belas kasihan.
ditempat kami mengajar , sebenarnya yang menjadi andalan adalah bahasa arab dan inggris serta pendidikan leadership, tentunya tidak ketinggalan hal - hal yang bersifat akhlaq , syari'ah , dan tasawuf , karena itu adalah dasar - dasar pendidikan di dalam pesantren.
Rasanya gemes , jika melihat dan mendengar anak - anak yang tidak berdisiplin , baik disiplin bahasa , disiplin lainnya , seperti sholat jamaah , kebersihan , tidur , baca qur'an dan lain- lain, tapi apalah daya , bahwa kerjaan ini tidak cukup untuk hanya di kerjakan sendiri, sebab tidak mungkin sendiri , sementara lain - lain nya hany leha - leha saja. begitu gumamku dalam hati , tapi kalo di pikir pikir , memang begitu adanya, sehinga tawakkal saja lah kepada Allah, sambil berusaha untuk memperbaiki yang kurang baik , dari pada tidak berbuat sama sekali , lebih berbaik berbuat , walau mungkin salah, sebab untuk menjadi bisa , maka biasanya tidak takut salah.
aaahhhhh itulah sekedar uneg uneg.
hari - hari ini selalu begitu . kadang aku berseloroh dalam hati , mengasuh anak - anak santri seolah - olah menjadi Istri kedua saya, sedangkan Istri pertama saya yaitu ibunya anak - anak di rumah.
Ibu nya anak - anak saya dan keluarga saya kadang kurang terperhatikan karena kesibukan saya. kedengarannya memang kurang adil , anak - anak saya yang seharusnya mendapatkan perhatian penuh dari saya , kadang harus berbagi dengan kesibukan saya. yang akdang menjadikan saya kasihan adalah ketika saya pulang ke rumah anak - anak dan Istri sudah tertidur pulas. Akhirnya , saya hanya bisa memandangi raut wajah ikhlas dari sosok istri yang selalu menemani ku dan sosok wajah imut lagi lucu dari anak nomor duaku , yaitu Robby Muntaha al- Musthofa, sebab anak pertama saya, yaitu Muhammad Abduh Al- Mustofa sudah masuk asrama ( pesantren ) , sehingga hanya beberpa kali saja tiap harinya ketemu , walaupun saya juga berada di pondok pesantren yang sama dengan anak saya.
Ketika saya keluar rumah , kebetulan rumah saya ada di lingkungan pesantren , maka yang terlintas dalam pikiran adalah bagaimana memperbaiki kekurangan yang ada pada pesantren atau pada santri - santri kami.
ada di antara mereka yang mudah di ingatkan , ada yang cukup dengan pandangan dan berubah , tapi ada yang harus berkali kali hanya untuk merubah sikap dari tidak memakai peci ke memakai pecei setiap menjalankan sholat berjamaah di masjid. ada yang cengeng , ada yang tegar , ada yang masa bodoh dengan keadaan , dan ada yang selalu mengiba minta di beri belas kasihan.
ditempat kami mengajar , sebenarnya yang menjadi andalan adalah bahasa arab dan inggris serta pendidikan leadership, tentunya tidak ketinggalan hal - hal yang bersifat akhlaq , syari'ah , dan tasawuf , karena itu adalah dasar - dasar pendidikan di dalam pesantren.
Rasanya gemes , jika melihat dan mendengar anak - anak yang tidak berdisiplin , baik disiplin bahasa , disiplin lainnya , seperti sholat jamaah , kebersihan , tidur , baca qur'an dan lain- lain, tapi apalah daya , bahwa kerjaan ini tidak cukup untuk hanya di kerjakan sendiri, sebab tidak mungkin sendiri , sementara lain - lain nya hany leha - leha saja. begitu gumamku dalam hati , tapi kalo di pikir pikir , memang begitu adanya, sehinga tawakkal saja lah kepada Allah, sambil berusaha untuk memperbaiki yang kurang baik , dari pada tidak berbuat sama sekali , lebih berbaik berbuat , walau mungkin salah, sebab untuk menjadi bisa , maka biasanya tidak takut salah.
aaahhhhh itulah sekedar uneg uneg.
Langganan:
Postingan (Atom)