Sabtu, 27 Juni 2009

BUDI PEKERTI DAN MENTAL

Pendidikan budi pekerja akhir akhir ini menjadi suatu pembicaraan yang hangat di kalangan para pendidik dan para pemerhati pendidikan di tanah air ini.

pembicaraan ini tidak lepas dari kualitas hasil pendidikan yang ada di Indonesia.
Seperti kita ketahui , bahwa pendidikan yang ada di Indoensia ini lebih mengutamakan pendidikan yang hanya ber orientasi pada pendidikan Kognitif semata. walaupun cap atau setempel ini selalu di tolak dan dibantah oleh pihak pemerintah, dan pemerintah selalu mengatakan bahwa yang menentukan lulus atau tidak anak didik itu adalah bukan pemerintah , tetapi guru di sekolah . tapi dalam kenyataan nya , hal tersebut tidak berlaku dan tidak terjadi , sebab tolok ukur yang ada adalah bersifat kuantitatif , jika nilai anak didik kurang dari 5,5 maka anak didik tersebut di pastikan tidak lulus dalam menempuh ujian, sebaliknya , jika nilai lebih dari 5,5 tetapi ada nilai yang dibawah 4 ,maka anak tersebut tidak lulus dalam ujian.

hal - hal tadi mengindikasikan bahwa pendidikan yang ada di Indonesia ini hanya mementingkan nilai - nilai yang bersifat Kognitif semata.

sebagai akibat dari pendidikan yang ber orientasi pada kognitif, maka tidak mengherankan jika dalam perilaku sehari - hari , anak didik kita terlihat seperti orang yang tidak memperhatikan nilai - nilai dan norma - norma , seperti :
1. kurang punya rasa empati
2. kurang mempunyai rasa hormat
3. Kurang mempunyai nilai nilai tata krama
4. anak - anak kurang sabar dalam berusaha
5. ingin serba instan dan serba cepat
6. tidak perduli pada nilai nilai agama
7. dsb masih banyak

maka sudah waktunya untuk merubah paradigma pendidikan yang ada di Indonesia, demi Indonesia di masa depan dan demi anak bangsa

Kita harus ingat , bahwa jika kualitas pendidikan kita sekarang amburadul , maka pada masa sepuluh tahun yang akan datang , atau bahkan mungkin satu generasi kita akan hilang ( lost generation ). dan kita tidak menginginkan itu.

Selasa, 23 Juni 2009

BELAJAR DARI KHAIDIR DAN MUSA

Di dalam al – Qur’an di sebutkan bahwa terjadi pertemuan antara Nabi Musa dengan Nabi Khaidir , dimana Nabi Musa meminta kepada Nabi Khaidir untuk bisa mengabdi dan mengikuti langkah perjalanan nabi Khaidir kemanapun beliau pergi , dengan harapan nabi musa ingin agar Nabi Khaidir mengajarkan kepadanya sebagian ilmunya yang telah di ajarkan Allah kepada nabi Khaidir.

Dan akhirnya nabi Khaidirpun mengijinkan nabi Musa untuk mengikutinya, seperti yang telah di tuturkan dalam al- Qur’an surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 67

قال إنك لن تستطيع معي صبرا
Artinya : “Dia ( Khaidir ) menjawab : sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup sabar bersamaku “

Jawaban Kahidir tersebut memberi isyarat halus kepada Musa bahwa beliau mengizinkannya , akan tetapi Khaidir memberi peringatan akan beratnya beban yang akan di terima Musa dalam perjalan nanti , dengan kata – kata “ sesungguhnya kamu sekali – kali tidak akan sanggup “

Akan tetapi Musa tidak menghiraukan peringatan dari Khaidir tersebut , sebab dalam pengetahuan Musa , maka Khaidir adalah salah satu hamba Allah yang telah diberi rahmat dan ilmu dari sisi Allah yang maha Esa. Bahkan Musa pun sangup mengucapkan janji kepa Khaidir bahwasannya dia akan taat dan sabar selama mengikuti Khaidir, seperti yang tertera di dalam ayat berikut ini :
Surat al- Kahfi ( 18 ) ayat : 69
قال ستجدنى إن شاء الله صابرا و لا أعصى لك أمرا.
Artinya : Musa berkata “ Insya Allah kamu akan mendapati saya sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanmu “

Akhirnya Khaidir pun memberikan syarat kepada Musa , jika memang ingin tetap mengikutinya dengan kata – lata sebagai berikut :
Al- Kahfi ayat : 70
قال : فإن اتبعتنى فلا تسألنى عن شيء حتى أحدث لك منه ذكرا
Artiya :Dia berkata : jika kamu mrngikuti ku , maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun , sampai aku sendiri menerangkan kepadamu.

Ujian – ujian bagi Musa
Khaidir membocorkan perahu yang sedang di naiki , Khadir membunuh seorang anak , khaidir membetulkan dinding rumah.

Pada kesemua peristiwa tersebut , maka Musa tidak bisa menepati janjinya untuk tidak memberi komentar dan bertanya kepada Khaidir tentang peristiwa – peristiwa tersbut. Dan pada setiap pertanyaan tersebut pula Khaidir memberikan peringatan kepada Musa , bahwasannya dia tidak akan sanggup mengikuti jejak langkahnya. Sampai akhirnya Khaidir harus menerangkan sendiri tentang peristiwa – peristiwa tersebut dan hikmah-hikmah nya. Dan hari tersebut adalah hari perpisahan Musa denga gurunya ( Khaidir ), karena Musa selalu tidak menepati janjinya kepada Khaidir, dengan ungkapan sebagai berikut : al- Kahfi : 78
قال هذا فراق بينى و بينك سأنبأك بتأويل ما لم تستطع عليه صبرا
Artinya : “haidir berkata : inilah perpisahan antara aku dengan kamu; aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan – perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya “

Dalam keterangan Khaidir maka di dapatkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Perahu tersebut adalah kepunyaan orang Miskin , yang jika tidak di lubangi , maka akan di rampas oleh seorang raja.
2. Sedangkan anak yang dibunuh adalah kedua orang tuanya mukmin , yang dikhawatrikan Khaidir , maka kelak anak terbut akan mendorong orang tuanya kepada kesesatan , dan berdoa , semoga Allah mengganti deengan anak yang lebih baik lagi;
3. sedangkan rumah tersebut adalah kepunyaan anak yatim di kota , dan di bawah rumah tersebut tersimpan harta bagi anak yatim tersebut, jika kelak dewasa anak tersebut diharapkan untuk sampai ke tempat tersebut dan mengeluarkan hartanya sebagai rahmat dari Tuhan yang maha Esa.
PELAJARAN YANG BISA DI AMBIL
Dari Khaidir : sebagai guru maka :
1. khaidir sangat menguasai ilmu yang di ajarkan kepada Musa
2. Khaidir konsisten terhadap nilai –nilai dalam mengajar , walaupun selalu tidak dipercaya Musa
3. sangaggup menerangkan pada waktu yang tepat
4. tidak menghardik murid walaupun muridnya selalu bertanya karena tidak faham ( sayang dan membimbing )
5. Selalu berkata lembut kepada muridnya
6. Seorang murid itu harus mengejar ilmu dan guru , dan bukan sebaliknya
7. Khaidir adalah tipe guru sejati , yang sanggup memberi inspirasi kepada murid- muridnya, sebab ada ungkapan sebagai berikut “ guru biasa itu berbicara , guru bagus itu menerangkan , guru hebat itu sanggup mendemonstrasikan sedangkan guru agung itu sanggup memberikan inspirasi “

dari Musa, sebagai murid , maka :
1. sebagai seorang murid , maka Musa adalah murid yang selalu ingin bersabar dalam menuntut ilmu
2. dalam berbicara dengan guru nya , maka dia sangat lemah lembut dan sopan kepada gurunya
3. Musa adalah nabi yang pernah berbicara langsung dengan Allah
4. Musa sangat menghormati gurunya
5. Musa sangat patuh pada setiap ucapan gurunya
6. Musa meminta izin gurunya dan meminta ridho ilmunya dalam menuntut ilmu kepada Khaidir
7. Musa sebagai representasi murid yang tawadlu’ dan tidak pongah serta merendahkan diri kepada guru ketika hendak belajar kepada guru , dan tidak merasa pintar
8. Musa sangat percaya bahwa ilmu itu di ajarkan oleh Allah
9. Musa selalu berdoa agar tidak tersesat dalam menuntut ilmu

Semoga bermanfaat.
Wassalam ,