إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ
وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا
وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ
لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. يَاأَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ
وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي
خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا
رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ
وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً.يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً.أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
Kaum muslimin Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah.
Alhamdulillah, kita bersyukur kepada Allah
karena di hari yang mulia ini kita dikumpulkan untuk beribadah kepada Allah
Subhanahu wa Ta’ala
Hari Jumat merupakan hari raya kaum muslimin dalam setiap pekannya.
Hari Jumat merupakan hari raya kaum muslimin dalam setiap pekannya.
قُلْ بِفَضْلِ اللهِ وَبِرَحْمَتِهِ
فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah, ‘Dengan kurnia Allah dan
rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan
rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus:
58)
Kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan
datang menjumpai kita, bulan yang mulia, yang diharapkan oleh orang-orang
shalih perjumpaan dengannya. Di bulan tersebut, seseorang bisa mengumpulkan
pahala yang banyak dengan waktu yang singkat demi mencapai kedudukan yang mulia
di sisi Allah Ta’la.
Sejenak, marilah kita introspeksi, sudah berapa
kali kita mendapati Ramadhan. Namun, apakah kita
telah meraih pelajaran-pelajaran berharga dari bulan Ramadhan? Sudahkah Ramadhan membuahkan perubahan dalam pribadi kita ataukah
hanya sekedar rutinitas belaka yang datang dan berlalu begitu saja?!
Oleh karenanya, perkenankanlah kami pada
khotbah kali ini untuk menyampaikan beberapa pelajaran Ramadhan, semoga dapat kita pahami, menjadi motivasi, dan dapat kita
wujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Amin.
Bulan Ramadhan merupakan sekolah keimanan dan bengkel yang sangat manjur bagi orang yang mengetahuinya. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya, di antaranya:
Bulan Ramadhan merupakan sekolah keimanan dan bengkel yang sangat manjur bagi orang yang mengetahuinya. Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil darinya, di antaranya:
Pelajaran pertama
yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Ikhlas
Ikhlas merupakan fondasi pertama diterimanya
suatu amalan ibadah seorang hamba. Dalam ibadah puasa secara khusus Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له
ما تقدم من ذنبه
“Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena keimanan dan mengharap pahala Allah, maka akan diampuni dosanya
yang telah lalu.” (HR. Bukhori dan Muslim)
Demikian pula dalam setiap amal ibadah kita,
marilah kita ikhlaskan murni hanya untuk Allah semata sehingga kita tidak
mengharapkan kepada selain Allah. Ingatlah bahwa sebesar apa pun ibadah yang
kita lakukan tetapi bila tidak ikhlas mengharapkan wajah Allah maka sia-sia
belaka dan tiada berguna.
Dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim dikisahkan
bahwa tiga golongan yang pertama kali dicampakkan oleh Allah adalah mujahid,
pemberi shodaqoh, dan pembaca Alquran. Perhatikanlah, bukankah jihad merupakan
amalan yang utama?! Bukankah shodaqoh dan membaca Alquran merupakan amalan yang
sangat mulia? Namun, kenapa mereka malah dicampakkan ke neraka?! Jawabannya,
karena mereka kehilangan keikhlasan dalam beramal.
Pelajaran kedua yang
dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Mutaba’ah
Mengikuti sunah merupakan fondasi kedua untuk
diterimanya suatu ibadah. Betapa pun ikhlasnya kita dalam beribadah tetapi
kalau tidak sesuai dengan sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka
tertolak dan tidak diterima. Oleh karenanya, dalam berpuasa kita meniru
bagaimana puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti mengakhirkan sahur
dan bersegera dalam berbuka.
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا
عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan
selama mereka menyegerakan berbuka puasa dan mengakhirkan sahur.” (HR.
Bukhori-Muslim)
Demikian pula dalam setiap ibadah lainnya,
marilah kita berusaha untuk meniru agar sesuai dengan tuntunan Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga amal kita tidak sia-sia belaka.
Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap kebaikan dan kejayaan hanyalah dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun terkadang akal belum menerima sepenuhnya.
Benarlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa setiap kebaikan dan kejayaan hanyalah dengan mengikuti sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun terkadang akal belum menerima sepenuhnya.
Dalam Perang Uhud, kenapa kaum muslimin
mengalami kekalahan? Jawabannya, karena mereka tidak taat kepada Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, apabila kita menginginkan
kejayaan maka hendaknya kita menghidupkan dan mengagungkan sunah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam, bukan malah merendahkan dan melecehkannya!!
Pelajaran ketiga
yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah takwa dan muroqobah
Meraih derajak takwa merupakan tujuan pokok
ibadah puasa. Allah berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu
bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Takwa artinya takut kepada Allah dengan
menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya sesuai dengan
sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karenanya, marilah kita
koreksi dan bertanya pada hati kita masing-masing, apakah kita bertujuan hendak
meraih tujuan puasa ini? Akankah kita memetik buah ketakwaan ini? Ataukah kita
puasa hanya menjalaninya dengan anggapan sekadar rutinitas saja?
Seorang yang berpuasa tidak akan berbuka
sekalipun manusia tidak ada yang mengetahuinya karena merasa takut dan merasa
diawasi oleh Allah dalam gerak-geriknya. Demikianlah hendaknya kita dalam
setiap saat merasa takut dan diawasi oleh Allah di mana pun berada dan kapan
pun juga, terlebih ketika kita hanya seorang diri. Apalagi pada zaman kita ini,
alat-alat kemaksiatan begitu mudah dikonsumsi, maka ingatlah bahwa itu adalah
ujian agar Allah mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang takut kepada-Nya.
Pelajaran keempat
yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah Persatuan
Bersatu dan tidak berpecah belah merupakan
suatu prinsip yang diajarkan Islam dalam banyak ayat Alquran dan hadis. Dalam
puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَوْمُ يَوْمَ تَصُوْمُوْنَ
وَالفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُوْنَ
“Puasa itu hari (ketika) manusia berpuasa dan
hari raya itu hari (ketika) manusia berhari raya.” (HR. tirmidzi )
Ya, demikianlah ajaran Islam yang mulia. Lantas
kenapa kita harus berpecah belah dan fanatik terhadap kelompok dan golongan
masing-masing, padahal sembahan kita satu, Rasul kita satu, ka’bah kita satu,
dan Alquran kita satu? Oleh karenanya, marilah kita rapatkan barisan kita dan
rajut persatuan dengan mengikuti Alquran dan sunah, taat kepada pemimpin kita,
dan mengingkari setiap pemikiran yang mengajak kepada perpecahan.
Pelajaran Kelima yang
dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah kembali kepada Ajaran Alquran
Bulan Ramadhan adalah bulan
diturunkannya Alquran yang berisi petunjuk bagi umat manusia. Allah berfirman,
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ
فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan Alquran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah: 185)
Maka hal ini memberikan pelajaran kepada kita
kaum muslimin agar kembali kepada ajaran Alquran dengan membacanya, memahami
isinya, mengamalkannya, dan menjadikannya sebagai cahaya dalam menapaki
kehidupan ini.
Kehinaan yang menimpa kaum muslimin pada zaman
sekarang tidak lain adalah disebabkan jauhnya mereka dari Alquran dan sunah.
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ
وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ
الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلًّا لَا يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا
إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian telah berjual beli dengan sistem
al-inah (salah sistem menuju riba), kalian sibuk dengan ekor sapi, rela dengan
tanaman, meninggalkan jihad, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepada kalian
dan Alah tidak mencabutnya dari kalian sehingga kalian kepada agama kalian.”
(HR. Abu Dawud )
Demikian pula, bencana demi bencana yang
menimpa negeri ini dari tsunami, banjir, tanah longsor, lumpur panas, dan
sebagainya, barangkali semua itu karena perbuatan dosa umat manusia agar mereka
segera menyadari dan kembali kepada ajaran agama yang suci. Allah berfirman,
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ
وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ
“Telah tampak kerusakan di daratan dan lautan
disebabkan ulah perbuatan manusia.” (QS. Ar-Rum: 41)
Demi Allah, sesungguhnya kemaksiatan itu sangat
berpengaruh pada keamanan suatu negeri, kenyamanan, dan perekonomian rakyat.
Sebaliknya, ketaatan akan membawa keberkahan dan kebaikan suatu negera. Allah
berfirman,
وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى
ءَامَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَآءِ
وَاْلأَرْضِ
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri
beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari
langit dan bumi.” (QS. Al-A’rof: 96)
Pelajaran keenam
yang dapat diambil dari bulan Ramadhan adalah kasih sayang terhadap sesama
Bulan Ramadhan adalah bulan kasih
sayang dan kedermawanan, karena bulan itu adalah bulan yang sangat mulia dan
pahalanya berlipat ganda. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam
adalah orang yang paling dermawan dan lebih dermawan lagi apabila di bulan Ramadhan, sehingga digambarkan bahwa beliau lebih dermawan daripada angin
yang kencang.
“Barangsiapa memberi makan kepada orang yang
berpuasa, maka baginya pahala semisal orang yang berpuasa, tanpa dikurangi dari
pahala yang orang berpuasa sedikit pun.” (HR. Tirmidzi)
Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa Islam
adalah agama yang rahmat (kasih sayang) kepada sesama. Bagaimana tidak, di
antara nama Allah adalah Rahman dan Rahim (Maha penyayang), Nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wa sallam juga adalah penyayang, Alquran juga penyayang,
lantas bagaimana ajaran Islam tidak menganjurkan umatnya untuk berbuat kasih
sayang kepada sesama?
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Semoga dengan memahami pelajaran yang ada dalam
bulan Ramadhan kita dapat memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya
sehingga keinginan untuk memperoleh derajat taqwa dapatlah kita raih. Kita
hanya berharap kepada Allah semoga kita semua diberikan kekuatan dan kemampuan
untuk memaksimalkan kesempatan baik ini. Amin ya robbal alamin.
Kaum muslimin yang dirahmati Allah
Demikianlah khutbah yang dapat saya sampaikan
semoga bermanfaat, saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan semoga
rahmat dan karunia-Nya selalu menyertai kita. Amin
أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولجميع
المسلمين والمسلمات، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Tidak ada komentar:
Posting Komentar