Selasa, 08 Juni 2010

Humor Santri ( Innamaa ju'ilal Imaamu liyu'tamma )

Kentus adalah santri di suatu pondok pesantren.

seperti biasa , kehidupan pesantren itu tidak lepas dari kehidupan sholat berjamaah. Sholat berjamaah lima waktu , yang harus dijalani oleh setiap santri , sebab dalam ajaran Islam , pahala sholat berjamaah itu dua puluh tujuh kali lipat , sehingga menjadi eman - eman jika tidak melaksanakan sholat berjamaah.

Ketika santri - santri yang lain sedang khusyu' melaksanakan sholat berjamaah yang di Imami oleh Kyai Bashirun , Kenthus dengan enaknya duduk santai di dapur untuk menghabiskan nasi yang sudah kadung di di tuangkan dalam piring dan sudah di beri sayur , dan kalo di tinggal , maka akan hilang selera makannya. ,malamua tanpa menghiraukan pahala 27 derajat , denga lahap menyantap nasi dalam piring tersebut samapi ludes.

Sehabis makan , Kenthus bergegas menuju masjid untuk mengikuti shlat jama'ah dengan yang lain - lain ,walaupun tinggal 2 rakaat terakhir saja , Kenthus tetap khusyu' menunaikan shalat tersebut, samapi terakhir salam.

Ketika Imam mengucapkan salam , maka para jama'ah juga mengikuti Imam mengucapkan salam , termasuk Kenthus.

Teman Kenthus yang duduk di sampingnya , serta merta bertanya dan mengingatkan Kenthus , ; Kenthus , kok kamu sudah salam , bukan kah kamu tadi salatnya Masbuk , tertinggal dua rakaat; begitu tegurnya, terus temannya melanjutkan tegurannya ; kamu harus menambah dua rakaat lagi , biar shalat 'isya'mua sempurna" dengan enteng Kenthus menjawab teguran temannya tadi ;" kenapa saya harus shalat lagi dan menambah 2 rakaat lagi ? bukan kah sudah ada Imam yang menyempurnakan shalat para ma'mum ? kalo menambah shalat lagi , itu akan menyalahi hadits yang berbunyi " Innamaa ju'ilal Imaamu liyu'tamma ,.

mendengar jawaban yang seprti itu , maka teman Kenthus menggerutu dalam hati dan mengatakan kepada dirinya sendiri " dasar Kenthus , santri keblinger , moga - moga dapat petunjuk dan tidak ketahuan sama Kyai , solanya kalo ketahuan Kyai. maka resikonya adalah di usir dari pesantren.

Wa Allahu a'lam bisshawab.