Siang itu , kira – kira jam satu siang , udara masih terasa menyengat panas di ubun – ubun dari sang mentari yang sombong menampakkan wajahnya , saya masuk area lembaga pendidikan ini setelah selesai mensurvei dapur angklung di jalan Poncol Raya jakarta timur. lembaga pendidikan yang cukup terkenal di Wilayah jakarta selatan, bahkan gaungnya sudah merambah saantero jagad raya ini. Lembaga ini terkenal diantaranya karena lembaga ini berbentuk asrama , atau kalau dalam istilah orang – orang jawa , maka lembaga yang sedemikian itu disebut dengan pesantren yang berarti tempatnya para santri. Ya, lembaga ini adalah lembaga pendidikan yang bernama Pesantren Darunnajah. Pesantren ini terletak di bilangan pesanggrahan Jakarta Selatan. Pesantren ini cukup luas , kurang lebih 5 hektare .
Pada saat saya melewati depan gedung koperasi yang megah itu , kulihat dari kejauhan Kyai Mahrus berdiri di depan koperasi dengan mengenakan batik berwarna coklat semakin menambah ketuaan kyai yang sudah mengelola pesantren ini lebih dari setengah abad. Kyai Mahrus berdiri menghadap ke arah lapangan basket sambil mengotak atik Handpon nya. Ketika mengetahui saya datang kearahnya , karena memang untuk kekantor saya , saya harus melewati depan beliau.
Dengan serta merta , beliau memanggil saya “guuus” dengan suara yang berat , kemudian beliau melanjutkan ucapannya “siapa yang mengatur tour kelas IV , kok campur putra putri” dengan cekatan saya menjawab “ust. Mardani ust.” Kyai Mahrus kemudian menjawab “mungkin Mardani tidak tahu” dalam hati saya berkata “masa gak tahu , wong dia mantan kepala biro pengasuhan santri Darunnajah” mendengar jawaban saya tadi kyai Mahrus tidak melanjutkan percakapan dengan saya yang berhubungan dengan tour nya kelas IV. Perlu di ketahui , Mardani atau teman – teman kami menyebutnya dengan panggilan “Gus Dani”adalah menantu dari Kyai Mahrus, dan gus Dani ini adalah tamatan pesantren Madani yang sedang ngetren dengan adanya pemutaran film Negeri Lima Menara.
Dalam hati saya berkata , ini dia inti pelajaran mahfudlot kelas satu dulu yaitu
خير الكلام ما قل و دل
Sebaik-baik ucapan adalah yang sedikit dan mengena tujuan.
Kamis, 05 April 2012
Minggu, 01 April 2012
PARLEMEN GILA
Mingu – minggu ini kita banyak menyaksikan tontonan di televise kita . tontonan ini cukup menghibur kita dan cukup membuat kita bisa tertawa. Tertawa bukan karena bahagia karena suatu prestasi , bukan , akan tetapi tertawa karena melihat kebodohan yang di pertontonkan oleh dagelan parlemen kita di Indonesia ini.
Satu bulan terakhir ini, bangsa Indonesia di Hebohkan oleh berita tentang akan naiknya BBM. Berita itu telah menyita sebagian energy bangsa ini , dan membuat banyak dari kita menjadi lupa ingatan akan problema hukum yang membuat gonjang ganjing jagat politik Indonesia. Masalah wisma atlet , masalah Hambalang, masalah pemilukada DKI, masalah intern partai Demokrat dan banyak lagi.
Dalam hati kecil , sebagai orang kecil , saya berfikir , bahwa keadaan ini memang sengaja di buat demikian , untuk mengalihkan perhatian pada masalah krusial tersebut. Dan terbukti , semua media meliput tentang perkembangan makluk BBM ini dari waktu ke waktu. Dan terlupakanlah maslaah hukum ini.
Yang lebih aneh lagi, parlemen adalah perwujudan dari demokrasi, dan demokrasi berarti mengedepankan suaara yang terbanyak , tapi ketika suara satu kelompok kalah , kok malah marah – marah dan merasa suara nya tidak di hargai , dan akibatnya walk out dari ruang siding. Dagelan apa lagi ini. Hal inipun masih berkutat dengan kata-kata “ atas nama rakyat” ala maaaa. Mau apa dan di bawa kemana ini negeri.
Dalam hati pun saya berfikir “ pasti ini juga bagian dari dagelan yang mengatas namakan rakyat “ padahal , kalau di runtut ke belakang , pada saat mereka memegang tampuk kepemimpinan , mereka juga berbuat seperti itu , bahkan menjual asset-aset Negara yang setrategis , seperti Indosat di jual dan asset lainya. Pada saat itupun mereka juga mengatakan dengan lantang “ atas nama rakyat “
Apakah ini yang bernama DEMOCRAZY , betul kali yeeeeee
Satu bulan terakhir ini, bangsa Indonesia di Hebohkan oleh berita tentang akan naiknya BBM. Berita itu telah menyita sebagian energy bangsa ini , dan membuat banyak dari kita menjadi lupa ingatan akan problema hukum yang membuat gonjang ganjing jagat politik Indonesia. Masalah wisma atlet , masalah Hambalang, masalah pemilukada DKI, masalah intern partai Demokrat dan banyak lagi.
Dalam hati kecil , sebagai orang kecil , saya berfikir , bahwa keadaan ini memang sengaja di buat demikian , untuk mengalihkan perhatian pada masalah krusial tersebut. Dan terbukti , semua media meliput tentang perkembangan makluk BBM ini dari waktu ke waktu. Dan terlupakanlah maslaah hukum ini.
Yang lebih aneh lagi, parlemen adalah perwujudan dari demokrasi, dan demokrasi berarti mengedepankan suaara yang terbanyak , tapi ketika suara satu kelompok kalah , kok malah marah – marah dan merasa suara nya tidak di hargai , dan akibatnya walk out dari ruang siding. Dagelan apa lagi ini. Hal inipun masih berkutat dengan kata-kata “ atas nama rakyat” ala maaaa. Mau apa dan di bawa kemana ini negeri.
Dalam hati pun saya berfikir “ pasti ini juga bagian dari dagelan yang mengatas namakan rakyat “ padahal , kalau di runtut ke belakang , pada saat mereka memegang tampuk kepemimpinan , mereka juga berbuat seperti itu , bahkan menjual asset-aset Negara yang setrategis , seperti Indosat di jual dan asset lainya. Pada saat itupun mereka juga mengatakan dengan lantang “ atas nama rakyat “
Apakah ini yang bernama DEMOCRAZY , betul kali yeeeeee
Langganan:
Postingan (Atom)